Ada satu
jenis pekerjaan yang sering kali baru terasa penting ketika orang yang
mengerjakannya tidak ada.
Rumah
tiba-tiba berantakan. Pakaian menumpuk. Piring belum dicuci. Anak harus
dijemput. Makanan belum tersedia.
Sementara
pekerjaan kantor terus mengejar dari layar laptop, rapat berganti rapat, dan
tubuh rasanya sudah tidak punya tenaga untuk mengerjakan semua hal itu setelah
pulang ke rumah.
Di titik
seperti inilah kita mungkin baru menyadari bahwa pekerjaan domestik bukan
pekerjaan kecil. Kali ini Jelajah Mia hadir memberikan review novel seputar pekerjaan
domestik itu. Setelah sebelumnya memberikan rekomendasi novel Mira W. Bagaimana
isi novelnya, mari simak hingga akhir!
Realita Pekerjaan Domestik
Namun,
dalam kehidupan sehari-hari, pekerjaan domestik masih sering dianggap sebagai
sesuatu yang "seharusnya" bisa dikerjakan sendiri. Bahkan ketika
seorang perempuan sudah bekerja dari pagi hingga sore, ia masih sering
dihadapkan pada ekspektasi untuk tetap menjadi pengelola utama rumah tangga.
Di tengah
realitas tersebut, novel Agensi Rumah Tangga karya Almira Bastari hadir
dengan premis yang sederhana, tetapi menarik. Bagaimana jika seseorang yang
kehilangan pekerjaan justru menemukan peluang baru dari sesuatu yang selama ini
dianggap remeh: menjadi penyalur asisten rumah tangga?
Novel Agensi Rumah Tangga
Novel
yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 26 Juni 2024 ini memiliki
ketebalan 272 halaman. Ceritanya berpusat pada Katia, perempuan yang harus
menghadapi PHK ketika ia masih memiliki tanggungan cicilan rumah.
Alih-alih
hanya berkutat pada drama kehilangan pekerjaan, Penulis membawa pembaca
masuk ke dunia yang mungkin sangat dekat dengan kehidupan banyak keluarga
Indonesia: hubungan antara majikan dan asisten rumah tangga.
Sinopsis Novel Agensi Rumah Tangga
Katia
awalnya menjalani kehidupan yang cukup nyaman sebagai pekerja di sebuah
perusahaan startup. Ia merasa pekerjaannya sudah menjadi jalan hidup yang
tepat. Namun, semuanya berubah ketika PHK datang.
Tiga
huruf yang mungkin terdengar sederhana, tetapi mampu mengguncang kehidupan
seseorang. Bagi Katia, kehilangan pekerjaan bukan sekadar kehilangan rutinitas
atau jabatan. Ia masih harus memikirkan cicilan KPR dan berbagai kebutuhan
hidup.
Di saat
yang sama, ibunya yang merupakan pensiunan PNS juga terus mendorong Katia agar
memiliki pekerjaan yang dianggap lebih aman dan bergengsi. Masalahnya,
mendapatkan pekerjaan baru ternyata tidak semudah mengirim CV dan menunggu
panggilan wawancara.
Dalam
kondisi terdesak, Katia kemudian mendapatkan ide yang tidak biasa. Ia
mendirikan usaha penyalur asisten rumah tangga yang diberi nama Agensi Rumah
Tangga, atau disingkat ART.
Tagline-nya pun sederhana dan terdengar seperti sebuah layanan profesional:
Dari
sinilah cerita berkembang. Katia harus belajar memahami kebutuhan calon majikan
sekaligus mengenali karakter para calon ART yang akan ditempatkan. Ia
berhadapan dengan berbagai macam karakter dan persoalan. Ada calon majikan
dengan permintaan yang rumit, ada ART dengan tingkah laku yang tidak terduga,
dan ada pula berbagai persoalan yang membuat Katia harus turun tangan langsung.
Usaha
yang awalnya lahir karena keterpaksaan perlahan menjadi sesuatu yang serius. Katia
bukan hanya sedang mencari cara untuk membayar cicilan rumah. Ia juga mulai
memahami bahwa menjadi perantara antara ART dan majikan bukan pekerjaan
sederhana.
Novel ini
sebenarnya sedang membicarakan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan
kita: siapa yang mengurus rumah ketika semua orang di dalam rumah sama-sama
sibuk?
Diam-Diam Mengajak Berpikir
Salah
satu kekuatan penulis adalah kemampuannya mengambil persoalan sehari-hari yang
tampak biasa, kemudian mengolahnya menjadi cerita yang menghibur.
Kalau
melihat premisnya, cerita tentang penyalur ART mungkin tidak terdengar seperti
ide yang akan menghasilkan novel yang seru. Tetapi justru di situlah daya
tariknya.
Almira
membuat persoalan yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari menjadi
sumber cerita.
Ada
persoalan majikan yang terlalu banyak tuntutan. Ada persoalan ART yang tidak
sesuai ekspektasi. Ada perbedaan cara pandang antara generasi tua dan generasi
muda.
Ada pula
persoalan perempuan yang berusaha bertahan hidup ketika kondisi ekonomi tidak
lagi memberikan banyak pilihan.
Katia
sendiri merupakan tokoh yang menarik karena ia bukan sosok perempuan yang
hidupnya selalu berjalan mulus. Ia kehilangan pekerjaan, memiliki tanggungan
finansial, harus menghadapi tekanan dari ibunya, sekaligus harus mencari jalan
keluar dari situasi yang tidak ia rencanakan.
Hal ini
membuat Katia terasa lebih dekat dengan realitas kehidupan masyarakat urban. Ia
bukan perempuan yang tiba-tiba menemukan passion lalu sukses besar. Ia memulai
sesuatu karena terdesak. Namun, dari keterdesakan itu, ia justru menemukan
kemampuan yang sebelumnya mungkin tidak pernah ia sadari.
Bagi
saya, bagian ini menjadi salah satu pesan menarik dari novel: terkadang
jalan hidup tidak selalu dimulai dari sesuatu yang kita inginkan. Bisa jadi,
kita justru menemukan jalan baru ketika kehidupan memaksa kita keluar dari
jalur lama.
Cerita
juga terasa semakin menarik karena hubungan Katia dengan ibunya. Ada benturan
antara generasi yang memandang pekerjaan sebagai simbol keamanan dan status
dengan generasi yang lebih terbiasa menghadapi ketidakpastian dunia kerja.
Katia
ingin menentukan hidupnya sendiri. Sementara sang ibu memiliki standar
kesuksesan yang berbeda.
Konflik
semacam ini terasa sangat familiar.
Banyak
orang mungkin pernah mengalami percakapan serupa.
"Kenapa
tidak cari pekerjaan yang aman?"
"Kenapa
tidak jadi PNS?"
"Kenapa
tidak kerja kantoran saja?"
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut sering kali muncul karena orang tua menginginkan kehidupan anaknya
lebih baik.
Namun,
definisi "lebih baik" antara satu generasi dan generasi lainnya belum
tentu sama.
Di
sinilah penulis kembali memperlihatkan kemampuannya dalam menghadirkan persoalan
sosial melalui cerita yang ringan.
Ketika ART Menjadi Bagian Penting dari Kehidupan Ibu Bekerja
Membaca Agensi
Rumah Tangga membuat saya berpikir tentang satu hal: pekerjaan domestik
sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Pekerjaan itu hanya berpindah
tangan.
Ketika
seorang ibu bekerja menggunakan jasa ART, bukan berarti pekerjaan rumah tangga
menjadi tidak penting.
Justru
sebaliknya.
Ada
begitu banyak pekerjaan domestik yang tetap harus dilakukan setiap hari.
Memasak, membersihkan rumah, mencuci, menyetrika, menjaga anak, merapikan
barang, dan berbagai pekerjaan lain yang seolah tidak pernah selesai.
Bagi ibu
yang bekerja, membagi energi antara pekerjaan profesional dan pekerjaan
domestik bisa menjadi tantangan besar.
Di
sinilah keberadaan ART sering menjadi bagian penting dalam sistem kehidupan
sebuah keluarga. Namun, novel ini juga mengingatkan bahwa ART bukan sekadar
"orang yang membantu pekerjaan rumah".
Mereka
adalah manusia yang memiliki kehidupan, keluarga, kebutuhan ekonomi, harapan,
dan persoalan sendiri.
Ini
menjadi salah satu hal menarik dari Agensi Rumah Tangga. Pembaca diajak
melihat hubungan majikan dan ART dari berbagai sisi. Tidak hanya dari sudut
pandang keluarga yang membutuhkan bantuan, tetapi juga dari sisi perempuan yang
datang dari daerah atau kampung untuk mencari penghasilan dan kesempatan hidup
yang lebih baik.
Dalam
kehidupan nyata, hubungan antara majikan dan ART memang tidak selalu sederhana.
Ada
keluarga yang memperlakukan ART dengan baik dan menganggapnya sebagai bagian
dari keluarga. Namun, ada pula persoalan mengenai beban kerja, jam kerja, gaji,
privasi, hingga batas antara hubungan profesional dan hubungan personal.
Karena
itu, ketika sebuah keluarga memutuskan menggunakan jasa ART, seharusnya yang
dibangun bukan hanya hubungan "majikan dan pekerja", tetapi juga
hubungan kerja yang sehat dan manusiawi.
Ada hak
yang harus dihormati.
Ada
kewajiban yang harus dijalankan.
Ada
batasan yang perlu disepakati.
Dan yang
paling penting, ada penghargaan terhadap pekerjaan domestik yang sering kali
tidak terlihat.
Mendelegasikan Bukan Berarti Tidak Mampu
Salah
satu hal yang menurut saya paling relevan dari novel ini adalah bagaimana kita
melihat keputusan seorang ibu bekerja untuk mendelegasikan sebagian pekerjaan
domestik.
Di
masyarakat kita, perempuan masih sering berada dalam situasi yang serba salah.
Ketika
bekerja, ada yang bertanya:
"Anaknya
siapa yang mengurus?"
Ketika
memilih fokus mengurus rumah, ada pula yang bertanya:
"Kenapa
tidak bekerja?"
Padahal,
setiap keluarga memiliki situasi yang berbeda.
Ada ibu
yang bekerja karena memang ingin membangun karier.
Ada yang
bekerja karena kebutuhan ekonomi. Ada yang menjadi tulang punggung keluarga.
Ada pula yang bekerja karena ingin memiliki ruang aktualisasi diri.
Apa pun
alasannya, tidak ada satu formula yang berlaku untuk semua perempuan.
Karena
itu, keputusan untuk menggunakan jasa ART seharusnya tidak otomatis dipandang
sebagai tanda seorang ibu tidak mampu mengurus rumah.
Bisa
jadi, justru itu adalah bentuk pembagian kerja.
Seorang
ibu mungkin memilih mengerjakan pekerjaan yang memang hanya bisa ia lakukan,
sementara pekerjaan domestik tertentu didelegasikan kepada orang lain yang
memang dibayar untuk mengerjakannya.
Sama
seperti sebuah perusahaan yang memiliki banyak divisi. Tidak semua pekerjaan
harus dikerjakan oleh satu orang.
Dalam
konteks keluarga, pembagian pekerjaan domestik juga seharusnya menjadi
keputusan bersama. Suami, istri, anak-anak, dan ART jika ada perlu memiliki
peran yang jelas.
Jangan
sampai keberadaan ART justru membuat seluruh tanggung jawab rumah tangga
kembali dibebankan kepada satu perempuan, hanya karena ia dianggap "ibu
rumah tangga".
Agensi
Rumah Tangga menarik
karena menghadirkan isu ini dengan cara yang tidak menggurui.
Kita
diajak tertawa melihat berbagai kejadian, tetapi perlahan menyadari bahwa di
balik pekerjaan rumah tangga terdapat persoalan sosial dan ekonomi yang cukup
kompleks.
Tentang Nilai Pekerjaan yang Sering Dianggap Rendah
Ada satu
hal yang terasa kuat dari perjalanan Katia. Pada awalnya, pekerjaan sebagai
penyalur ART mungkin tidak terlihat bergengsi. Bahkan, orang-orang di
sekitarnya memiliki pandangan tersendiri mengenai pilihan tersebut.
Namun,
semakin Katia menjalani pekerjaannya, semakin terlihat bahwa pekerjaan itu
membutuhkan kemampuan. Dan ia harus memastikan bahwa orang yang ia pertemukan
bisa bekerja sama dengan baik.
Dari
sini, novel ini seperti mengajak pembaca mempertanyakan kembali standar kita
dalam menilai sebuah pekerjaan.
Mengapa
pekerjaan tertentu dianggap lebih bergengsi daripada pekerjaan lainnya?
Mengapa
pekerjaan kantoran dianggap lebih tinggi daripada pekerjaan domestik?
Padahal,
semua pekerjaan memiliki kontribusi.
Katia
mungkin kehilangan pekerjaannya di startup, tetapi ia justru menemukan peluang
baru melalui dunia yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Dan
menariknya, dunia tersebut ternyata memiliki peran besar dalam kehidupan banyak
keluarga.
Quote Novel Agensi Rumah Tangga
“Buka
usaha dengan modal sekecil-kecilnya dan mengharapkan untung sebanyak-banyaknya.
Itu seperti berharap bisa memikat konglomerat.”
(Hal.25)
“Dalam
keharmonisan rumah tangga, selain uang dan kesetiaan, juga diperlukan ART yang
mumpuni.”
(Hal.51)
“Ingin
punya privasi, tapi selalu ada pembantu yang jadi saksi.”
(Hal.66)
"Hidup
itu kayak roda. Kadang-kadang di bawah, kadang-kadang kelindes."
(Hal.
101).
“Setiap
orang punya cerita luka yang ia simpan, sampai keluar dengan sendirinya dalam
bentuk candaan tanpa rasa sedih lagi.”
(Hal.128)
“Yang
abadi itu masalah. Sudah selesai, ada lagi yang baru.”
(Hal.142)
“Anak
adalah harapan orang tua atau pembalasan dendam orang tua.”
(Hal.243)
Penutup
Setelah
membaca Agensi Rumah Tangga, saya merasa novel ini lebih luas daripada
sekadar cerita tentang seorang perempuan yang membuka usaha penyalur ART.Tentang
bagaimana manusia bertahan ketika hidup tiba-tiba mengubah rencana.
Penulis
berhasil mengambil tema yang sangat dekat dengan keseharian dan mengemasnya
dalam cerita yang ringan, jenaka, tetapi tetap memiliki lapisan sosial.
Sebab, di
balik rumah yang bersih, makanan yang tersedia, anak yang terurus, dan ibu yang
tetap bisa bekerja mengejar kariernya, ada banyak pekerjaan yang mungkin tidak
terlihat.
Dan
mungkin, salah satu pelajaran paling penting dari Agensi Rumah Tangga
adalah bahwa :
Mendelegasikan
pekerjaan domestik bukan berarti seorang ibu gagal menjadi ibu. Mempekerjakan
ART juga bukan berarti seseorang boleh memperlakukan pekerja rumah tangga
sesuka hati.
Pada
akhirnya, rumah bukan hanya tentang siapa yang paling banyak mengerjakan
pekerjaan di dalamnya. Rumah adalah tentang bagaimana semua orang yang tinggal
di dalamnya belajar berbagi tanggung jawab.
Dan
mungkin, itulah mengapa Agensi Rumah Tangga terasa begitu dekat dengan
kehidupan kita.






Post a Comment
Post a Comment