Di tengah
derasnya buku-buku baru yang terus bermunculan, ada cerita-cerita lama yang
ternyata belum kehilangan pesonanya. Buku klasik bukan sekadar peninggalan masa
lalu, tetapi juga menjadi jendela untuk melihat bagaimana imajinasi dan dunia
bacaan anak-anak Indonesia tumbuh pada zamannya.
Salah
satu nama yang menarik untuk kembali dikenali adalah Djokolelono. Melalui
cerita petualangan, persahabatan, imajinasi, hingga dunia yang penuh misteri,
karya-karyanya pernah menemani banyak pembaca dan meninggalkan kenangan
tersendiri.
Lantas,
apa yang membuat karya Djokolelono masih menarik dibaca di masa sekarang?
Setelah sebelumnya dengan rekomendasi buku misteri, sekarang beberapa
rekomendasi buku klasik karya Djokolelono yang bisa sobat Jelajah Mia baca
kembali atau mungkin baru tahu untuk pertama kalinya.
Apa
Itu Buku Serial Klasik?
Sebelum
masuk ke rekomendasi Buku karya Djokolelono, kita tahu dulu apa itu buku serial
klasik. Buku serial klasik adalah kumpulan buku yang terdiri dari beberapa
judul atau jilid yang saling berkaitan dan biasanya telah dikenal atau dibaca
oleh banyak generasi.
Ceritanya
dapat mengikuti tokoh yang sama dari satu buku ke buku berikutnya, atau
memiliki tema, dunia cerita, dan gaya penulisan yang serupa.
Serial
klasik biasanya tetap dicari dan dibaca kembali meskipun sudah terbit sejak
lama karena cerita, karakter, nilai kehidupan, atau daya tarik petualangannya
masih relevan. Contohnya antara lain serial sersan grung-grung Astrid dan
Bandit, Lima Sekawan, Sapta Siaga, atau serial anak dan remaja klasik lainnya.
Setelah
tahu apa itu buku serial klasik, berikutnya kita tahu dulu bagaimana biografi
singkat dari penulisnya. Tak kenal maka tak sayang, mari kita berkenalan dengan
penulisnya.
Biografi
Singkat Djokolelono
Djokolelono
adalah nama pena dari Djoko Lelono, salah satu penulis Indonesia yang dikenal
luas melalui karya-karya bacaan anak, petualangan, fantasi, dan fiksi ilmiah.
Ia lahir di Desa Beru, Wlingi, Jawa Timur, pada 10 April 1944.
Djokolelono
aktif berkarya terutama pada era 1970-an hingga 1980-an. Ia dikenal sebagai
penulis yang produktif dan mampu menulis dalam berbagai genre. Salah satu karya
pentingnya adalah Jatuh ke Matahari (1976) yang kemudian dilanjutkan dengan
Bintang Hitam. Ia juga menulis serial Penjelajah Antariksa serta berbagai
cerita anak dan petualangan.
Namanya
semakin lekat dengan pembaca anak dan remaja melalui serial Astrid, antara lain
Astrid dan Bandit, Astrid dan Pelarian, dan Astrid di Palungloro. Karya-karya
tersebut menjadi bagian dari bacaan populer anak Indonesia pada masanya dan
kemudian diterbitkan kembali dalam seri Seri Klasik Semasa Kecil.
Menariknya,
Djokolelono tidak hanya berkiprah sebagai penulis. Ia juga dikenal sebagai
penerjemah, termasuk menerjemahkan Petualangan Tom Sawyer karya Mark Twain
serta karya-karya dari Enid Blyton dan Laura Ingalls Wilder. Ia juga pernah
berkecimpung di dunia periklanan sebelum kemudian kembali memusatkan waktunya
pada dunia kepenulisan.
Setelah
kenal dengan penulisnya, langsung ke inti dari artikelnya. Apa saja buku karya
Djokolelono?
Rahasia
di Balik Lukisan
Novel ini
mengisahkan Tatang, putra seorang pelukis terkenal bernama Himawan. Kehidupan
Tatang berubah drastis setelah ibunya meninggal dunia. Sang ayah tenggelam
dalam kesedihan dan memutuskan berhenti melukis. Di tengah situasi tersebut,
sebuah lukisan berharga karya Himawan dicuri oleh seseorang yang juga melukai
sang ayah hingga tidak sadarkan diri.
Saat
berusaha mengungkap pelaku pencurian, Tatang mendengar suara misterius yang
berasal dari salah satu lukisan di galeri ayahnya. Tanpa diduga, ia tersedot
masuk ke dalam dunia lukisan. Di sana, tokoh-tokoh dalam lukisan hidup layaknya
manusia dan bahkan menjadi saksi berbagai kejadian yang mungkin berkaitan
dengan hilangnya lukisan tersebut. Tatang pun berpindah dari satu lukisan ke
lukisan lain, mengumpulkan petunjuk hingga perlahan mengungkap siapa dalang di
balik pencurian itu
Tema yang
digambarkan pada kisah ini yaitu tentang seorang anak yang dapat masuk ke dalam
lukisan terasa unik, bahkan masih terasa segar meskipun cerita ini pertama kali
ditulis puluhan tahun lalu.
Cerita
anak tidak harus sederhana dalam ide. Kisah ini menghadirkan petualangan penuh
imajinasi yang mengajak pembaca percaya bahwa karya seni dapat menyimpan dunia
lain sekaligus menjadi pintu menuju keberanian dan kebenaran. Walaupun cerita
lawas tapi sebagai bacaan bisa jadi pengantar bagi anak-anak yang mulai
menyukai kisah misteri dan fantasi.
Astrid:
Rumah Pohon
Anto
adalah anak kelas enam yang dikenal sangat pintar, terutama dalam matematika.
Namun, kepintarannya justru membuatnya dijauhi teman-teman. Ia dianggap cuek,
angkuh, dan tidak membutuhkan siapa pun.
Astrid
kemudian menemukan sisi lain Anto. Di balik sosok anak jenius yang tampak kuat,
ternyata Anto menyimpan luka. Ayahnya memiliki ambisi besar terhadap masa depan
Anto dan menuntutnya menjadi "anak super" agar dapat mencapai
cita-cita yang dulu tidak berhasil diraih sang ayah. Masalahnya, Anto justru
mempunyai keinginan sendiri: ia ingin menjadi penulis.
Konflik
semakin memanas ketika keinginan Anto berhadapan langsung dengan ambisi
ayahnya. Astrid yang awalnya hanya berusaha memahami Anto akhirnya ikut
terseret ke dalam konflik keluarga tersebut.
Anto
menjadi karakter yang paling menarik. Ia bukan sekadar anak pintar yang
menyebalkan. Ia adalah gambaran anak yang terlalu lama hidup di bawah
ekspektasi orang tua. Kepintarannya menjadi kebanggaan, tetapi keinginannya
sendiri justru tidak mendapatkan ruang.
Ceritanya
tidak terburu-buru seperti banyak bacaan anak masa kini. Ada rasa petualangan,
persahabatan, humor, dan kepolosan dunia anak yang membuat pembaca dewasa
seperti diajak pulang sebentar ke masa kecil.
Astrid:
Rumah Pohon bukan hanya bacaan tentang anak-anak yang bermain dan bertualang.
Ia adalah cerita tentang anak yang ingin didengar, orang tua yang perlu belajar
memahami, dan persahabatan yang membuat seseorang merasa tidak sendirian.
Terlontar
ke Masa Silam
Dwiyana
alias Yana, seorang mahasiswa ilmu purbakala yang hidup pada tahun 1971. Dalam
sebuah ekspedisi menggunakan pesawat kecil di sekitar Selat Madura, Yana
terlibat dalam situasi berbahaya bersama dosennya dan dua orang Amerika yang
sejak awal ia curigai.
Setelah
pesawat mengalami ledakan, Yana justru mengalami sesuatu yang mustahil: ia
terlempar ke tahun 1292, masa ketika Kerajaan Singasari berada di penghujung
kekuasaannya. Perjalanan waktu itu terjadi melalui sebuah helm waktu yang
menjadi satu-satunya jalan baginya untuk kembali ke tahun 1971.
Namun,
perjalanan ke masa lalu bukanlah wisata sejarah. Yana harus menghadapi bajak
laut Kala Wredati, penjara Bupati Madura, serta berbagai ancaman yang
membuatnya harus menggunakan kecerdikan untuk bertahan hidup. Di tengah
petualangannya, ia bertemu Raden Wijaya, tokoh yang kelak mendirikan Kerajaan
Majapahit. Yana bahkan harus berusaha menyelamatkan Raden Wijaya sekaligus
menjaga helm waktu agar kesempatan pulang tidak hilang.
Kisah
tentang perjalanan waktu tapi tidak membawa tokohnya ke sejarah dunia seperti
yang sering dilakukan cerita fiksi ilmiah Barat. Yana justru dilemparkan ke
sejarah Nusantara, tepatnya periode menjelang lahirnya Majapahit. Perpaduan
antara fiksi ilmiah, petualangan, dan sejarah inilah yang menjadi kekuatan
utama cerita.
Terlontar
ke Masa Silam memperlihatkan bahwa imajinasi penulis Indonesia sejak puluhan
tahun lalu sudah mampu menggabungkan teknologi, sejarah, petualangan, dan humor
dalam sebuah cerita yang sederhana tetapi berani.
Menyenangkan
ketika membaca cerita tentang anak muda dari tahun 1971 yang tiba-tiba
berhadapan dengan dunia Jawa abad ke-13. Ia mengenal sejarah dari buku, tetapi
kini justru hidup di dalam sejarah itu sendiri.
Penutup
Karya
Djokolelono membuktikan bahwa cerita yang baik tidak mudah lekang oleh waktu.
Di balik petualangan dan imajinasinya, selalu ada nilai tentang persahabatan,
keberanian, dan rasa ingin tahu.
Masih
banyak karya lainnya tapi semoga tiga bukunya mewakili gambaran karya beliau.
Dari rekomendasi di atas, karya Djokolelono mana yang ingin kamu baca? Atau,
adakah buku Djokolelono yang pernah menemani masa kecilmu? Yuk, ceritakan di
kolom komentar!







Post a Comment
Post a Comment