Sulitnya Menciptakan Healthy Boundaries

4 comments

 

Apakah Sobat Jelajah Mia tipe yang susah menolak dan berkata tidak terhadap orang lain? Tahu tidak, bahwa salah satu membuat sehat secara mental adalah dengan membuat diri kita Healthy Boundaries. Apa itu Healthy Boundaries?

 

Sebelum masuk ke Healthy Boundaries, kita bahas dulu tentang Boundaries itu tersendiri.

 

Sulitnya Menciptakan Healthy Boundaries

Pengertian Boundaries

Boundaries (atau dalam bahasa Indonesia secara literal dapat diartikan sebagai “Batasan”) merupakan batasan yang ditetapkan dan kebutuhan yang diekspresikan oleh seseorang agar ia merasa aman dan nyaman dalam lingkungan bersosialisasi. Boundaries berlaku pada tiap konteks hubungan, mulai dari hubungan keluarga, pasangan, teman, tempat kerja, bahkan teknologi!

 

Secara konkret, boundaries dapat berupa memberi batasan antara kapan harus bekerja dan kapan waktu beristirahat, berkata tidak pada teman yang ingin meminjam uang padahal kita sedang tidak ada uang lebih, mengutarakan kebutuhan emosional dengan jelas pada pasangan.

 

Lalu apa lagi? Meluangkan waktu untuk fokus pada diri sendiri dengan mempraktikkan self-care, dan membatasi durasi bermain media sosial. Tanpa boundaries yang sehat, seseorang akan mengalami burnout atau kelelahan secara emosional, mental, dan fisik

 

Sulitnya Menetapkan Healthy Boundaries

Sudah mencoba sekali, tapi gagal atau merasa tidak nyaman. Setelah bertahun-tahun terbiasa tidak menetapkan boundaries karena ingin menyenangkan hati orang lain, tentu saja ada kemungkinan timbul rasa tidak nyaman ketika kita mencoba menetapkan boundaries.

 

Yang bisa dilakukan: Boundaries bukan hanya disampaikan berupa kata-kata, tapi juga dari konsistensi perilaku kita dalam menetapkannya. Take your time dan terus berlatih menoleransi rasa tidak nyaman dari menetapkan boundaries sehat demi kesejahteraan jangka panjang diri sendiri.

 

Takut menyakiti hati orang lain. Seringkali individu dengan porous boundaries enggan menolak karena ingin menyenangkan hati orang lain. Yang bisa dilakukan: Menolak permintaan orang lain atau mengkomunikasi kebutuhan kita dapat disampaikan secara tegas dan tidak menyinggung.

 

Takut dinilai jahat karena tidak menolong orang lain. Tidak ada yang salah dari menolong orang lain, namun kita bisa menolong tanpa mengorbankan kesejahteraan diri sendiri. Kita masih bisa menolong sambil menetapkan boundaries yang sehat.

 

Yang bisa dilakukan: Tolonglah orang lain ketika kita sedang merasa baik-baik saja dan siap. Ketika orang lain datang meminta bantuan di saat kita sedang kelelahan atau di saat yang tidak nyaman bagi kita, kita  dapat membalas permintaan tersebut di lain waktu atau cukup jelaskan bahwa saat ini kita sedang tidak bisa membantu secara langsung.

 

Salah paham mengira bahwa boundaries = selalu berkata tidak. Padahal, menetapkan boundaries bukan berarti kita selalu menolak dan berkata “tidak” pada orang lain.

 

Tiga Tipe Boundaries

  1. Porous boundaries, atau boundaries yang rapuh. Saking rapuhnya boundaries yang ditetapkan, orang lain bisa merobohkannya dengan mudah.
  2. Rigid boundaries, atau boundaries yang kaku. Saking kakunya boundaries yang ditetapkan, tidak ada orang yang diperbolehkan untuk masuk ke kehidupan kita.
  3. Healthy boundaries, atau boundaries yang sehat. Inilah boundaries ideal yang penting untuk dilatihkan.

 

Bagaimana Cara Mengatasi Healthy Boundaries?

Kita percaya bahwa orang lain yang harus berubah, bukan kita. Padahal, kita tidak bisa mengontrol orang lain dan hanya bisa mengontrol apa yang kita lakukan.

Yang bisa dilakukan: Perubahan dimulai dari diri Anda. Jangan terpaku berusaha mengendalikan apa yang tidak bisa dan tidak perlu Anda kendalikan.

 

Ciri-ciri dari Healthy Boundaries

  1. Mengetahui value yang penting bagi diri sendiri
  2. Dapat mengkomunikasikan kebutuhan diri kepada orang lain dengan jelas
  3. Berbagi cerita dan keluh-kesah dengan orang lain dengan tidak oversharing
  4. Bisa mengatakan “tidak” atau menolak ketika merasa tidak nyaman melakukan sesuatu yang diminta
  5. Dapat menerima pernyataan “tidak” atau penolakan dari orang lain yang sedang menetapkan boundaries-nya, dan tidak tersinggung secara personal

 

Kita tidak sadar memiliki masalah dalam menetapkan boundaries. Meski sudah banyak orang yang tahu mengenai konsep boundaries, banyak juga yang tidak sadar bahwa dirinya sendiri masih harus berlatih menetapkan boundaries yang sehat.  Yang bisa dilakukan: Yuk kita coba refleksi ke diri sendiri, apakah kita sudah menetapkan boundaries yang sehat?

 

Penutup

Meski tidak mudah menetapkan boundaries, dengan berlatih menerapkannya di kehidupan sehari-hari berarti kita sedang berusaha menghargai dan menyayangi diri sendiri. Namun, jika Sobat Jelajah Mia merasa tidak dapat menetapkan batasan, ada baiknya coba berkonsultasi dengan profesional


Newest Older

Related Posts

4 comments

  1. kalau bounsaries apakah cocok diterapkan utk keluarga mbak? sprtinya apa ya perlakuannya?

    ReplyDelete
  2. Mengutamakan kepentingan orang lain itu baik, tapi bukan berarti mengabaikan diri sendiri, ya. Jadi memang penting menerapkan healthy boundaries ini agar orang lain pun memahami bahwa kita punya privilege untuk diri sendiri

    ReplyDelete
  3. Jangan berhenti berbuat baik, tetapi sekiranya perbuatan itu merugikan diri sendiri sebaiknya tidak dilakukan, berani berkata tidak itu juga penting, karena menghargai dan mencintai diri sendiri itu penting

    ReplyDelete
  4. Oh aku punya temen kayaknya dengan tipikal Rigid boundaries. Kayaknya cenderung introvert gitu. Bener nggak sih? Aku jadi segan mau nanya apa-apa sama doi, bentengnya terlalu tinggi haha

    ReplyDelete

Post a Comment