Ada satu
fase dalam hidup ketika kita mulai menyadari bahwa bertambahnya usia bukan lagi
soal angka, melainkan soal energi. Tentang kepada siapa kita ingin bercerita,
dengan siapa kita merasa aman, dan lingkaran mana yang membuat hidup terasa
lebih ringan, bukan justru melelahkan.
Adakah
Sobat Jelajah Mia yang relate dengan situasi itu? Atau dijalani sesuai dengan air
mengalir? Setelah sebelumnya diajak untuk merenung untuk bisa terhubung dengan
diri sendiri, sekarang kita merenung mempersiapkan diri menjelang usia 40.
Menjelang usia 40
Walaupun
bertanya usia berapa sangatlah sensitif karena tidak semua orang suka diketahui
berapa usianya. Usia Jelajah Mia saat ini 35 tahun, adakah yang sama? Beberapa tahun
lagi akan menapaki di usia 40.
Banyak
orang mulai mengalami perubahan cara pandang terhadap pergaulan. Jika dulu
rasanya ingin dikenal banyak orang, ingin selalu hadir di setiap kumpul, ingin
dianggap “masih asyik diajak nongkrong”, kini perlahan muncul kebutuhan baru:
ingin tenang.
Bukan
anti sosial. Bukan juga merasa lebih baik dari orang lain. Hanya saja, semakin
dewasa, kita mulai sadar bahwa energi sosial ternyata terbatas.
Ada
obrolan yang membuat hati penuh. Ada juga percakapan yang sepulangnya justru
bikin kepala berat. Dan anehnya, kesadaran itu sering datang diam-diam.
Cara Memilih Circle Juga Berubah
Dulu
mungkin kita mudah sekali masuk ke berbagai circle. Circle teman sekolah, teman
kerja, komunitas, teman nongkrong, grup alumni, sampai circle media sosial yang
sebenarnya tidak terlalu dekat tetapi tetap dipertahankan demi menjaga koneksi.
Namun
menjelang usia 40, banyak orang mulai lebih selektif.
Bukan
karena sombong.
Melainkan
karena mulai memahami bahwa tidak semua hubungan harus dipelihara dengan
intensitas yang sama.
Ada teman
yang cocok untuk bercanda.
Ada teman
yang cocok untuk diskusi.
Ada teman
yang hanya nyaman disapa sesekali.
Dan ada
juga hubungan yang ternyata hanya bertahan karena kebiasaan, bukan kenyamanan.
Di usia
ini, kita mulai belajar membedakan mana hubungan yang tumbuh secara sehat dan
mana yang diam-diam menguras mental.
Bertambah, Berkurang, atau Stagnan?
Jawabannya
tentu bisa berbeda untuk setiap orang. Ada yang lingkaran pertemanannya semakin
kecil karena fokus pada keluarga dan pekerjaan.
Ada yang
justru bertambah karena mulai aktif di komunitas baru. Ada juga yang stagnan,
tetap berteman dengan orang-orang lama tanpa banyak menambah koneksi baru.
Semua
sebenarnya tidak masalah. Yang penting bukan jumlahnya, tetapi kualitas
hubungan di dalamnya.
Menjelang
usia 40, banyak orang mulai menyukai hubungan yang lebih tulus dan minim drama.
Pertemanan yang tidak menuntut harus selalu hadir. Tidak marah kalau chat
dibalas lama. Tidak merasa tersaingi ketika melihat pencapaian teman.
Karena di
fase ini, hidup semua orang sudah sama-sama sibuk.
Ada yang
sedang membesarkan anak.
Ada yang
sedang merawat orang tua.
Ada yang
mengejar stabilitas finansial.
Ada juga
yang sedang diam-diam memperbaiki kesehatan mentalnya.
Itulah
mengapa circle yang sehat terasa sangat berharga.
Plus Minus Mengurangi Circle Pertemanan
Salah
satu hal yang sering terjadi menjelang usia 40 adalah mulai mengurangi circle
pertemanan.
Kadang
disengaja.
Kadang
terjadi alami.
Misalnya
mulai jarang ikut kumpul yang terlalu melelahkan. Tidak lagi aktif di grup
tertentu. Mengurangi interaksi yang membuat hati tidak nyaman. Atau perlahan
menjaga jarak dari hubungan yang terasa penuh kompetisi terselubung. Tentu ada
plus dan minusnya.
Plus Mengurangi Circle
1. Mental terasa lebih tenang
Kita
tidak lagi sibuk menjaga banyak ekspektasi sosial. Tidak merasa harus selalu
update kehidupan. Tidak lelah mengikuti dinamika yang sebenarnya tidak penting.
Hidup
terasa lebih ringan.
2. Lebih punya waktu untuk diri sendiri
Usia 40
sering menjadi fase refleksi. Banyak orang mulai menikmati aktivitas sederhana
seperti membaca buku, olahraga ringan, menikmati pagi yang tenang, atau quality
time bersama keluarga.
Energi
yang dulu habis untuk terlalu banyak relasi, kini bisa dipakai untuk merawat
diri sendiri.
3. Hubungan jadi lebih berkualitas
Semakin
sedikit circle, biasanya hubungan yang bertahan justru semakin dalam.
Obrolannya lebih jujur. Pertemuannya lebih hangat. Tidak harus sering, tetapi
terasa tulus.
Minus Mengurangi Circle
1. Kadang muncul rasa kesepian
Ini yang
jarang dibahas.
Saat
mulai mengurangi pergaulan, ada fase ketika hidup terasa lebih sepi dari
biasanya. Apalagi jika sebelumnya terbiasa ramai.
Tiba-tiba
weekend kosong.
Chat
mulai berkurang.
Undangan
nongkrong tidak sebanyak dulu.
Dan itu
bisa terasa aneh.
2. Relasi baru jadi lebih sedikit
Semakin
dewasa, kesempatan bertemu orang baru memang cenderung berkurang. Padahal
kadang relasi juga penting untuk perkembangan diri maupun pekerjaan.
3. Rentan terlalu nyaman di zona sendiri
Terlalu
menutup diri juga tidak selalu baik. Karena manusia tetap membutuhkan koneksi
sosial agar emosinya tetap sehat.
Cara Mengantisipasi Dampak Saat Mengurangi Circle
Mengurangi
circle bukan berarti mengisolasi diri. Kuncinya adalah tetap memiliki hubungan
sosial yang sehat, meski tidak sebanyak dulu.
Berikut
beberapa cara yang cukup relate untuk kehidupan sehari-hari:
1. Pertahankan yang benar-benar tulus
Tidak
perlu banyak.
Cukup
beberapa orang yang bisa diajak bicara tanpa pencitraan. Teman yang hadir bukan
hanya saat senang, tetapi juga saat hidup sedang berantakan.
Circle
kecil yang sehat jauh lebih menenangkan dibanding pertemanan luas tetapi
melelahkan.
2. Tetap terbuka
Walau
lebih selektif, bukan berarti menutup diri sepenuhnya.
Menjelang
usia 40 justru banyak orang menemukan circle baru yang lebih nyaman karena
frekuensinya sudah sejalan. Bisa dari komunitas hobi, dunia kerja, parenting,
olahraga, atau bahkan media sosial.
Kadang
pertemanan terbaik datang di usia yang tidak lagi muda.
3. Belajar menikmati kesendirian
Ini salah
satu kemampuan emosional yang penting. Tidak semua waktu harus diisi keramaian.
Ada fase hidup ketika kita justru bertumbuh saat bisa nyaman dengan diri
sendiri.
Menikmati
kopi pagi tanpa distraksi.
Berjalan
santai sendirian.
Merapikan
rumah.
Menulis
jurnal.
Atau
sekadar diam tanpa merasa harus selalu terhubung dengan banyak orang.
4. Kurangi hubungan yang membuat mental lelah
Semakin
bertambah usia, kita mulai sadar bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan
mati-matian.
Jika
sebuah circle membuat kita terus merasa kurang, cemas, dibanding-bandingkan,
atau tidak pernah menjadi diri sendiri, mungkin memang perlu diberi jarak.
Menjaga
kesehatan mental juga bagian dari kedewasaan.
Hidup Mulai Tentang Ketenangan
Ada
perubahan menarik menjelang usia 40.
Kita
mulai tidak terlalu ingin terlihat keren.
Tidak terlalu ingin dianggap paling sibuk.
Tidak lagi memaksakan hadir di semua tempat.
Yang
mulai dicari justru sederhana:
hati yang
lebih tenang,
hubungan
yang lebih tulus,
dan hidup
yang terasa cukup.
Mungkin
circle pertemanan memang tidak lagi sebanyak dulu. Tetapi bukan berarti hidup
menjadi miskin hubungan.
Justru di
usia ini, banyak orang mulai menemukan siapa yang benar-benar tinggal saat
versi terbaik kita memudar. Siapa yang tetap nyaman hadir tanpa tuntutan
pencitraan.
Penutup
Dan
mungkin memang itu inti kedewasaan sebenarnya. Bukan tentang seberapa ramai
hidup kita terlihat, tetapi seberapa nyaman hati kita saat menjalaninya.
Buat sobat
Jelajah Mia yang sudah melewati fase menjelang usia 40 boleh yang kasih masukan
buat kami-kami yang sedang di fase menjelang usia 40




Post a Comment
Post a Comment