Rumah Makan Sunda Citraloka Part 4

Post a Comment

 

Designed by using canva

Lapangan Gasibu Bandung menjadi tempat yang ramai untuk berolahraga dan kalau hari minggu terdapat pasar kaget minggu. Lokasi yang digunakan untuk rekreasi, lari pagi atau sekedar menjadi tempat tujuan untuk berkumpul. Terdapat pula tempat bermain dan spot-spot menarik lainnya sehingga tidak jarang menjadi tempat piknik mendadak bagi keluarga.

 

Adistia dan Patra memenuhi janji mereka untuk lari pagu dan keduanya menyelengi dengan canda tawa. Lalu mereka beristirahat, keduanya memilih duduk di pinggir arena lari. Napas Adistia terengah-engah, sesekali mengelap keringat, “Haduh…. udah lama ga lari lumayan cape banget, ya! Kamu kok bisa ga kecapekan?” tanya Adistia

“Hampir tiap hari aku lari pagi sekitar rumah dan bahkan ke gasibu juga, supaya bisa menjaga kebugaran tubuh dan performa di dapur bakal bagus!”

“Kayanya percuma, deh, kamu olahraga tapi tiap di dapur diusir melulu gara-gara bikin lauk pauk ga sesuai standar Kang Ajat, hahahahah” Nada Adistia sedikit meledek Patra.

“Iya juga,sih” Ardi tertawa renyah lalu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.30 WIB. “Baru jam setengah delapan,nih. Masih ada banyak waktu sebelum kita berangkat ke rumah makan jam dua belas nanti. Gimana? Kamu mau kemana dulu?

“Hmm. sepertinya pulang aja,deh.” kata Adistia. “ Kalau aku jam 9 di telepon ayah pasti sambil melacak IP address ponselku. Kalau posisiku bukan dirumah atau di rumah makan, maka akan ada seseorang yang menghampiri kita.”

“Mungkin itu juga yang menjadi faktor, banyak cowok yang mundur perlahan untuk dekati kamu.” kata Patra

“Eh, kalo gitu, kamu main ke rumahku aja. Nanti aku buatin kue awug dan beberapa masakan lainnya.”

“Oh tentu mau sekali, siapa tau lihat km masak, aku jadi ga dimarahin sama Kang Ajat terus. Tapi g ada ayahmu, kan? nada Patra dengan sedikit was-was

 

Mobil Ardi sudah sampai di area rumah Adistia , tapi gadis itu menyuruh Patra  masuk lewat area blok barat. Rupanya satu blok dimiliki oleh keluarga Adistia. Bahkan untuk sampai masuk ke area rumah, beberapa kali harus melewati beberapa kali penjaga dan sistem keamanan yang ketat.  Didalam area rumah utama, terdapat beberapa mobil mewah keluaran Eropa dan Jepang, bikin Patra merasa minder dengan mobil yang ia bawa.

 

Walau diluar Nampak rumah modern minimalis tapi ketika masuk ke rumah Adistia, siapaun akan terkejut dengan nuansa desain interior sunda yang walaupun agak semi modern, perpaduan material batu alam dan bambu pada tembok dan sudut rumah. Disaat yang lain menggunakan anyaman jadi dan tempelan, tetapi hampir semua yang terpajang di rumah Adistia, semuanya asli.

 

Untuk masuk ke ruang utama rumah harus dengan memencet kode akses di panel pintu pembatas, rumahnya menggunakan fitur Google Home, sehingga setiap peralatan tersambung dengan ponsel orang-orang di rumah ini. Sesampainya di ruang utama, mereka langsung menuju dapur untuk memasak. Adistia memiliki dapur khusus untuk dirinya sendiri dengan dilengkapi full set professional kitchen dengan desain futuristic dan membuat Patra terpukau dibuatnya.

 

“Gila! Keren banget ini dapur! Rumah kamu ini modern dan futuristik dari luar tapi dalamnya tradisional dan perlengkapan dapurmu desain tradisional tapi perlengkapan lengkap sekali.” Mata Patra mengedar ke seluruh penjuru dapur dengan berbinar-binar.

 

“Ayah memang suka desain interior, ia mencoba segala hal gaya desain, walau akhirnya tetap kembali ke konsep tradisional.” Nadira menanggapi omongan Patra sambil memotong-motong bahan masakannya. “Dia juga ada kenalan orang-orang IT dari beberapa negara lain.”

 

“Ternyata kemampuan memasakmu bertambah hebat bukan hanya karena sering dilatih tapi didukung dengan finansial yang memadai, ya?” Patra menggeleng tak habis pikir dengan segala kemewahan yang ada dirumah Adistia. Nadira hanya tertawa menanggapi ucapan dari Patra.

 

Sejam berlalu dengan cepat, keduanya selesai memasak satu set menu sederhana yaitu karedok, kue awug dan es cendol. Adistia agak segan melihat kue awug, sebab hidangan itu menjadi salah satu bukti pembunuhan Fahira.

 

Melihat Adistia sedikit bengong, lalu Patra menyadarkan lamunan Adistia dengan bertanya. “Karena ini hidangan khas kamu, coba jelasin hidangan kamu ini.”

 

“Awug adalah satu dari sekian banyak penganan khas masyarakat Sunda atau Jawa Barat. Diolah dari tepung beras (parΓ©) yang dicampur dengan air, garam, gula merah dan kelapa parut serta dimasak dengan cara dikukus. Kue Awug yang ku hidangankan sekarang, versi originalnya bukan seperti yang ku hidangkan di Rumah Makan yang sudah banyak modifikasi” terang Adistia

Lalu Adistia melanjutkan “Karedok dibuat dengan bahan-bahan sayuran mentah, sedangkan sausnya adalah bumbu kacang yang dibuat dari cabai merah, bawang putih, kencur, kacang tanah, air asam, gula jawa, garam, dan terasi. Salah satu ciri dari karedok adalah menggunakan oncom bakar. Bila tidak menggunakan oncom bakar disebutnya lotek mentah (atah). Karedok biasanya menjadi makanan pelengkap dalam menu sehari-hari orang Sunda, cocok untuk kita yang beres olahraga.”

 

“Cendol sebagai minuman tradisional khas Indonesia ini dulunya terbuat dari tepung hunkwe, tetapi kini cendol terbuat dari tepung beras, disajikan dengan es parut serta gula merah cair dan santan. Minuman ini memiliki rasa yang manis dan gurih. Di daerah Sunda Jawa Barat, minuman ini dikenal dengan nama cendol, bila di rumah makan aku dituntut untuk membuat hidangan sesuai dengan permintaan maka dirumah ini, aku ratu yang menentukan menu yang mau aku hidangkan.” Tutup Adistia kepada Patra seolah seperti guru yang sedang menjelaskan kepada muridnya.

 

“Ternyata kamu persis seperti gambaran rumahmu, dari luar tampak futuristik tapi ternyata tradisional sekali dan tetap mempertahankan autentiknya sebuah hidangan.” puji Patra pada Adistia

 

Di tempat yang lain, Inspektur Amhar dan Rakha mendatangi rumah Nisa untuk melakukan penyelidikan lanjutan. Perlu upaya yang besar hingga melibatkan koneksi khusus untuk mendapat data tentang Adistia terutama Nisa, kasus yang awalnya bagi Inspektur Amhar mudah tapi ternyata banyak terkendala pada keamanan berlapis hanya karena sebuah pencarian informasi.

Setelah sampai di rumah Nisa yang dengan desain dengan gaya skandinavia, sudah dihidangkan kopi oleh art tapi masih enggan sebelum sang tuan rumah datang.

 

“Selamat siang bapak-bapak, silakan diminum, tenang saya tidak meracuni dengan sianida, saya tidak ingin rumah saya nantinya jadi konsumsi publik.” sapa Nisa dengan penampilan santai dan bikin kedua polisi ini justru makin segan.

 

“Begini, kedatangan kemari adalah melakukan penyelidikan lanjutan kasus pembunuhan Fahira Azzahra. Kami meminta keterangan dari Anda. Apakah anda tidak keberatan?”

 

“Silakan saja, Pak”

 

“Menurut keterangan sahabat korban, orang terakhir yang bertemu dengan korban adalah Anda, boleh saya tahu, apa yang kalian bicarakan pada waktu itu?”

 

“Pasti tahu dari Kania, ya” Jawab Nisa langsung dan ekspresi Inspektur Amar yang sedikit terkejut dan terdiam membuat Nisa melanjutkan obrolan kembali, “Obrolan saya dengan korban hanya sebatas memberikan peringatan karena kinerja yang menurun dan sering terlambat, saya punya bukti untuk membuktikan perkataan saya.”

 

“Boleh saya lihat?” Tanya Inspektur Amar

 

“Bentuknya rekaman suara yang memang tadinya buat bukti yang saya sampaikan ke Kang Ajat, silakan dilihat, Pak!” sahut Nisa

 

Lalu rekaman pun diputar  dan setelah rekaman selesai diputar Nisa membisikan sesuatu kepada Inspektur Amar terdiam dan lalu pamit undur diri, membuat Rakha terheran-heran dengan kelakuan atasannya.

Sepeninggal kedua polisi itu, Nisa tetap bertahan dengan posisinya. Wanita itu menyunggingkan bibir menatap kehampaan ruangan rumahnya. “Semua sesuai rencana….”

 

Bersambung

 

 

 

 

 

 

Related Posts

Post a Comment