Permainan Tradisional Kearifan Lokal Masyarakat Sunda

21 comments

 

Indonesia adalah negara yang memiiki segala kekayaan ragam budaya dan keseniannya. Setiap daerah memiliki ciri khas dan keistimewaan masing-masing, termasuk permainan tradisional yang perlu dilestarikan. 

 

Permainan Tradisional Kearifan Lokal Masyarakt Sunda

Siapa yang masa kecilnya puas dengan main dan bahkan sampai disusulin orang tuanya untuk pulang?

 

Permainan Tradisional Bentuk Kearifan Lokal

Ya, karena permainan tradisional yang sangat melekat pada anak-anak sebelum generasi Z dalam kesehariannya. Ditambah badai pandemi kalau itu, permainan tradisional yang masuk ke dalam kearifan lokal ini mulai sirna tergerus dengan perkembangan zaman, apalagi oleh penggunaan gadget.

 

Hal ini tentu sangat memprihatinkan karena efek digitalisasi bisa terus menggeser minat pada permainan tradisional. dan bisa berujung pada berakhirnya budaya dan kearifan lokal yang ada. Permainan tradisional merupakan wujud dari nilai-nilai kearifan lokal.

 

Anak-anak dalam kesehariannya biasa disibukkan dengan kegiatan bermain bersama, baik itu pada sore hari dan libur sekolah.

 

Terutama saat puasa seperti sekarang ini, ngabuburit kala itu ya dihabiskan dengan segala macam permainan tradisional. Mungkin ini pula salah satu alasan terjadinya kedurjanaan masa puasa 🤣.

 

Setiap daerah pasti ada permainan tradisional khasnya masing-masing. Saat ini saya mau membahas salah satu permainan tradisional dari daerah Sunda.

 

1. Cingciripit

Aturan permainan tradisional Sunda ini sangat sederhana dan bisa dimainkan oleh semua kalangan usia. Cingciripit biasanya dimainkan sebelum permainan lainnya untuk menentukan pemain yang akan menjadi kucing (dalam Bahasa Sunda disebut emeng).

 

Permainan Tradisional Cingciripit

Para pemain Cingciripit harus berkumpul membentuk lingkaran. Kemudian, salah seorang pemain harus membuka telapak tangan agar pemain lainnya dapat meletakkan satu telunjuk di atasnya.

 

Setelah formasi siap, seluruh pemain akan menyanyikan lagu Cingciripit. Saat lagu hampir berakhir, semua pemain harus bersiap mengangkat telunjuknya. Pemain yang terlambat mengangkat telunjuk dan tertangkap oleh telapak tangan yang tertutup dinyatakan kalah dan harus menjadi kucing.

 

Ada yang masih ingat dengan lirik lagunya?

Cing ciripit 

Tulang bajing kacapit 

Kacapit ku bulu pare 

Bulu pare seuseukeutna 

Jol pa dalang mawa wayang 

Jrek-jrek nong, jrek-jrek nong

 

2. Oray-orayan

Oray-orayan bernuansa ceria karena memadukan unsur gerak dan suara serta dilakukan oleh pemain dalam jumlah banyak. Dua pemain bertugas sebagai gerbang yang saling berpegangan tangan.

 

Permainan tradisional Oray-orayan

Masing-masing gerbang tersebut berperan sebagai bulan dan bintang yang posisinya dirahasiakan. Sisa pemain lainnya berbaris panjang kemudian barisan pemain harus melewati gerbang terus-menerus sambil menyanyikan lagu bertajuk Oray-orayan.

 

Pada akhir lagu, dua pemain yang bertindak sebagai gerbang akan menurunkan tangan untuk menangkap satu pemain dalam barisan. Lalu pemain tersebut diminta memilih bulan atau bintang sebelum akhirnya berbaris di belakang pilihannya.

 

Jika barisan pemain sudah habis, kubu bulan dan bintang akan adu kekuatan dengan cara saling menarik tangan menyerupai permainan tarik tambang.

 

3. Galah Asin

Galah asin biasanya dimainkan oleh dua tim yang masing-masing terdiri dari tiga hingga tujuh pemain. Satu tim bertugas sebagai penjaga yang berdiri sejajar, dan ada pula yang berdiri melintang untuk menjaga garis depan hingga belakang.

 

Permainan tradisional Galah Asin

Tim lainnya bertugas untuk masuk ke area permainan yang telah dijaga ketat tanpa tersentuh atau tertangkap oleh para penjaga. Permainan tradisional Jawa Barat yang satu ini menuntut pemainnya untuk jeli dan tangkas saat bergerak.

 

4. Gatrik

Di kawasan Jakarta dan sekitarnya, Gatrik lebih dikenal dengan nama Tok Kadal Lobang. Permainan tradisional Jawa Barat yang satu ini membutuhkan dua bilah kayu atau bambu, satu bilah harus berukuran 30 cm dan bilah lainnya berukuran lebih pendek.

 

Permainan tradisional gatrik

Cara bermainnya sangat mudah. Potongan bambu yang pendek diletakkan secara melintang pada permukaan dua buah batu. Salah satu pemain harus memukulnya bambu panjang agar bambu pendek tersebut melayang sejauh mungkin hingga tidak bisa ditangkap oleh tim lawan yang sedang berjaga-jaga.

 

5. Anjang-anjangan

Anjang-anjangan sebenarnya juga populer di berbagai daerah lain dengan nama yang berbeda. Pada permainan tradisional ini, anak-anak akan menirukan orang dewasa yang sudah berumah tangga.

 

Permainan tradisional Anjang-anjangan

Meskipun lebih sering dimainkan anak perempuan, kadang kala anak laki-laki juga ikut memainkannya. Ada yang berperan sebagai ibu, bapak, dan anak. Ada pula variasi peran lainnya seperti dokter, guru, atau pedagang sayuran. Biasanya ada pula pemain yang berperan sebagai sutradara agar jalan cerita bisa diatur dan terasa lebih seru.

 

Penutup

Generasi muda di zaman modern sangat familiar dengan game online yang bisa dimainkan di smartphone dan gadget lainnya. Game online memang seru dan sangat variatif.

 

Namun, sebenarnya permainan tradisional Sunda tak kalah menarik untuk dimainkan. Permainan tradisional merupakan wujud kearifan lokal.

 

Adakah yang tidak asing dengan 5 permainan tradisional? Atau didaerah sobat Jelajah Mia ada permainan tradisional khas daerah masing-masing, yuk berbagi di kolom komentar!


Related Posts

21 comments

  1. Jadi kangen masa kecil sebelum ada gadget. Selalu main sama teman. Nggak nyangka kalau suatu hari permainan semacam ini akan terancam punah karena modernisasi. Padahal seru banget mainnya.

    ReplyDelete
  2. Aku sangat akrab sama 5 permainan tradisional sunda karena memang besar di tanah sunda 🥰😍 Duh jadi kangen suasana dan kenangan jaman main. Seru banget, biasanya batas maksimal main itu sebelum ashar. Habis ashar udah harus mandi dan berangkat ngaji. Sampai ke tempat ngaji sebelum magrib biasanya main di depan masjid. Seru pisan. Beneran ya Indonesia itu serba kaya dan berbudaya.

    ReplyDelete
  3. Beda daerah beda penyebutan ternyata ya kak. Agak asing dengan istilah permainannya, tapi ketika baca keterangannya ternyata permainan yang sama. Seperti gatrik, kalau di tempatku biasa disebut benthik, ada gobak sodor juga. Eh kalau cing ciripit ini sama, cuma syair lagunya yg berbeda

    ReplyDelete
  4. Seneng banget misalnya permainan tradisional tersebut masih aktif dilakukan sampai sekarang ya mbak. Apalagi di tengah gempuran gadget saat ini. Lebih baik bermain bersama teman, permainan tradisional akan terasa makin asyik dilakukan

    ReplyDelete
  5. Paling sering dan masih kumainkan sampai hari ini tuh Cingciripit ya. Nggak cuma dilakukan kalau mau main kartu bareng geng rusuhku di rumah, nggak jarang buat 'mengundi' siapa melakukan pekerjaan apa dalam urusan beberes rumah pun, masih suka pakai Cingciripit. Buat seseruan aja sih.

    ReplyDelete
  6. Ya ampun memori call semua ini mah, hahahaha. paling suka main angjang anjangan dan galah. seru banget. eh sorodot gaplok gak masuk list nih, padahal itu juga seru. benteng bentengan (eh ini sama dengan galah ya) juga dan sondlah. ngajarin anak anak main kek gini juga seru. mereka mulai main galah juga loh

    ReplyDelete
  7. Semuanya pernah kumainkan waktu kecil dulu. Tapi karena dulu tinggal di Papua, namanya saja yang beda sih. Ahh jadi kangen dengan masa kecil dulu deh.

    ReplyDelete
  8. Ini mah ngalamin semua permainan jaman baheula nya, duh kangen jaman bocil yang gak pernah cape maen dari siang sampe sore hari sebelum disusulin ibu atau kaka buat cepet-cepet mandi hehehe

    ReplyDelete
  9. Ternyata galah asin dan gatrik permainan khas sunda ya. Tapi di daerah sumatera pernah liat anak SD main galah asin dan gatrik. Ternyata galah asin dan gatrik sudah menjadi permainan nasional..:)

    ReplyDelete
  10. Permainan tradisional khas Sunda banyak juga ya kak Aku baru ngeh lho unik dan menarik ini

    ReplyDelete
  11. Dari nama beda sesuai daerah ya
    Kalau Oray-Orayan di kampung saya namanya Toko Toko Diang hahaha
    Trus Galah Asin ini namanya di kampung Dor-Dor
    Seru ya kalau ingat

    ReplyDelete
  12. Aku bukan urang Sunda tapi baca deskripsi permainan tradisional Sunda di atas ada beberapa yang sama dengan daerahku, beda nama aja. Eh apa ada semacam kampung main untuk melestarikan permainan ini?

    ReplyDelete
  13. berasa jadi ingin balik lagi ke masa kecil, tapi kok ya tidak mungkin ya. Ini bakal jadi saksi, serunya permainan tradisional jaman dulu

    ReplyDelete
  14. Ragam permainan tradisional ini hampir serupa sih disetiap daerah, cuma dengan penamaan yang sedikit berbeda aja. Kayak oray-orayan ini kalau di Palembang namanya permainan ular naga. Lucu sih kalau diingat lagi, masa-masa kecil memainkan permainan tradisional. Permainan enggrang ada nggak sih di tanah Pasundan Kak?

    ReplyDelete
  15. Ya Allah, jadi keinget waktu kecil pas suka maen-maen kaya cingciripit dan oray-orayan. Jadi kangen teman-teman sepermainan juga waktu kecil.
    Ah, tulisan Teh Mia ini bikin kenangan indah waktu kecil berkelabatan dengan mainan-mainan lokal sunda nya. hatur nuhun Teh

    ReplyDelete
  16. Mirip-mirip dengan permainan tradisional di kampungku. Mungkin memang hanya beda daerah beda nama saja kali ya...

    ReplyDelete
  17. Wah baca artikel ini jadi ingat ke masa kecil. Semua yg ditulis di atas mainan kesukaan saya semua. Apalagi gatrik hehe..seru main gatrik itu...jadi kangen masa masa kecil dulu...saat dunia game belum menyerang penduduk bumi hehe

    ReplyDelete
  18. Masyaallah, meskipun aku bukan orang Sunda tapi menarik ya Mbak. Indonesia memang kaya akan budayanya...

    ReplyDelete
  19. Permainan tradisional memang bisa mendukung kreativitas anak, skill komunikasi, dan tentunya mengajarkan anak untuk bersosialisasi

    ReplyDelete
  20. Kayaknya samaaa permainannya cuman penyebutannya aja yang beda ini hihi.. jadi penasaran sama bahasanya juga nih kak Mia, unik loh bahasa Sunda tuh

    ReplyDelete
  21. Jadi kangen masa kecil wkwk. Beda daerah beda penyebutannya ya mbak. Sayangnya sekarang permainan tersebut sudah jarang dimainkan. Anak-anak lebih memilih bermain gadget sendiri-sendiri.

    ReplyDelete

Post a Comment