Ramadan Ajang Evaluasi Diri

13 comments

 


Akhirnya kita dipertemukan kembali di bulan nan Indah dan penuh cinta didalamnya. Marhaban ya Ramadan, tiada yang seindah ketika akhirnya dipertemukan kembali olehMu.

 

Bulan yang selalu punya cerita di balik makna kehidupan yang mendalam. Tulisan sebelumnya bahas tentang Fenomena Silent Majority di Pemilu 2024, sekarang mau cerita yang ringan-ringan saja. Ada cerita apa saja di 10 hari pertama Ramadan Jelajah Mia?

 

Ramadan Ajang Evaluasi Diri

Marhaban Ya Ramadan

Ramadan 2023 adalah tahun pertama Ramadan dengan anugerah karunia keturunan hadir. Bayi cantik yang menemani di waktu sahur dan buka. Bayinya saat ini sudah menjadi manusia kecil yang memiliki segudang proyek. Proyek imajinasi tingkat tinggi yang kadang perlu dimaknai secara dalam, apa yang ada di dalam pikiran bayi ini.

 

Selain di ranah media sosial selalu ada status yang tersurat maupun tersirat tentang Nuansa Ramadan 2024. Tentu kami, kaum ibu-ibu ini pasti mulai dipusingkan dengan stok-stok makanan.

 

Bahkan tidak hanya urusan stok makanan, memastikan bahwa bangun tidur dengan waktu yang cukup menyediakan masakan hingga disantap, tentu jadi PR besar. Bisa dibayangkan bila seorang ibu bangun kesiangan, bisa heboh urusan logistik seharian beraktivitas.

 

Munggahan Ramadan

Seperti sudah identik di awal puasa dengan balik kampung (mohon tidak membaca kalimat ini dengan nada). Mengingat lebaran akan dilaksanakan di rumah keluarga suami, maka agar adil, awal puasa kami memutuskan di Bogor. Apalagi anakku, Atala, kalau sama kakeknya, ibu bapaknya bisa ongkang-ongkang kaki dan rebahan hingga bosan 😂.

 

Walaupun sudah ditetapkan pemerintah bahwa 1 Ramadan yaitu tanggal 12 tapi selalu ada keberagaman dalam pelaksanaannya. Begitupun dengan keluargaku, orang tuaku berkiblat pada penetapan Arab Saudi yang sudah melaksanakan tarawih di tanggal 10 , maka otomatis tanggal 11 sudah mulai puasa.

 

Berbeda bukan berarti menjadikan sebuah pertikaian. Walaupun berbeda, tetap saling berebut diskonan promo fashion dan aneka hantaran lebaran. Eh, eh, bukan itu maksudnya tapi tetap saling bertoleransi. Jadi tidak sabar menanti cerita unik di Ramadan tahun ini.

 

Bulan Ramadan tak hanya identik dengan serangkaian ibadah dan kewajiban yang wajib dijalankan umat muslim. Momentum ini juga tidak terlepas dari beragam tradisi yang berkembang di masyarakat, salah satunya adalah takjil.

 

Fenomena Takjil di Ramadan 2024

Takjil adalah menu hidangan yang bertujuan untuk membatalkan puasa. Itu sebabnya takjil biasanya terdiri dari makanan dan minuman ringan sebelum dilanjutkan dengan hidangan utama.

 

Berburu takjil atau istilah kerennya 'war' takjil merupakan tradisi yang sudah melekat di bulan Ramadhan, terutama di Indonesia. Rupanya, kebiasaan berburu takjil ini tidak hanya dilakukan oleh umat Muslim saja. Tentu yang mengikuti berita terkini sosial media, tahu bagaimana serunya berburu takjil saat ini.

 

Baru-baru ini media sosial dihebohkan oleh berbagai konten video soal keseruan umat Muslim maupun non Muslim berburu takjil selama Ramadhan. Di mana dalam video yang beredar di media sosial, tidak hanya umat Islam saja yang tengah berpuasa melakukan perburuan takjil.

 

Melainkan, mereka non Muslim juga dibuat berburu takjil Ramadhan. Seperti yang terlihat di berbagai platform media sosial, baru-baru ini muncul fenomena 'War Takjil' saat umat non Muslim juga turut berburu jajanan khas Ramadhan meskipun tak berpuasa.

 

Bahkan ada guyonan, "Untuk mu Agama mu, untuk ku takjil mu," demikian kata-kata yang kian ramai dibagikan di media sosial.

 

Terlepas dari fenomena yang saat ini sedang trending, bukan berarti seolah ada perpecahan antar agama. Justru dari video dan komennya seperti anak kecil yang sedang bertengkar, dibuat sebagai sebuah hal yang seru. Hal yang populer sekarang justru membawa rezeki bagi pedagang muslim yang berjualan makanan.

 

Tidak hanya itu, keberadaan non muslim yang berburu takjil ini juga menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia penuh toleransi.

 

Selain menyambut Ramadan dengan segala hal baik ibadah hingga melanjutkan tradisi yang biasa dilakukan saat Ramadan. Ada baiknya momen di Ramadan itu untuk evaluasi diri.

 

Evaluasi Diri

Cara terbaik untuk belajar dari kesalahan adalah dengan mengevaluasi diri setiap hari. Bukan sekadar menyalahkan diri kita, Mengevaluasi diri membuatmu lebih memahami baik dan buruk kehidupan. Karena saat kita evaluasi, akan melihat bahwa keburukan adalah hal salah yang harus ditinggalkan. Sementara kebaikan adalah hal benar yang harus dipertahankan. Seperti halnya pepatah mengatakan, ambil baiknya, buang buruknya.

 

Hal inilah yang membuat kita lebih bijak dalam menyikapi kehidupan. Kita jauh lebih luwes karena lebih tahu menempatkan situasi. Bahkan cara menyikapi berbagai hal baik dan hal buruk dalam hidup. Tentu berimbas baik karena lebih berhati-hati memutuskan segala sesuatu dalam hidupmu.

 

Ramadan adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri. momen Ramadan sering mengingatkan kita pada masa lalu dalam keluarga, betul tidak? kita sibuk menyiapkan berbagai hal untuk persiapan menjelang puasa, ini momen yang baik untuk menjalin kembali rasa kekeluargaan di antara kita.

 

Dalam hal ibadah, Ramadan jadi ajang evaluasi untuk melihat sejauh mana derajat ketaqwaan yang diperoleh dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. Sebab puasa itu menciptakan orang menjadi taqwa.

 

Ramadan tentunya jadi ajang bersyukur terhadap apa yang telah Allah SWT berikan. Kuncinya bersyukur dengan apa yang diperoleh karena masih ada yang lebih sulit. Sehingga Allah menguji dengan syukur. Terkadang kita berusaha ingin selalu memberikan yang terbaik dalam segala hal di bulan Ramadan. Ketika bukan Ramadan seolah kita kembali mengatur diri kita seperti biasa. Itulah pentingnya menjadi lebih baik dari hari ke hari

 

Jadi, evaluasi diri itu perlu dilakukan untuk bertambahnya kualitas puasa yang telah dilakukan dari tahun ke tahun. Apakah puasa yang selama ini dilakukan bertambah kualitasnya atau tetap saja seperti dahulu ? inilah perlunya evaluasi diri

 

Penutup

Setiap Ramadan selalu punya cerita, begitupun dengan cerita di sepuluh hari pertama Ramadannya Jelajah Mia. Bagaimana cerita di dua puluh hari berikutnya? Semoga warna ceritanya bisa diceritakan di blog, ya, kalau tidak mager hahaha. Apa cerita Sobat jelajah Mia di sepuluh hari pertama Ramadan?

 

Sebagian besar cerita sudah di sampaikan di Instagram Jelajah Mia, dengan penambahan dan perubahan yang diperlukan


Related Posts

13 comments

  1. Setuju banget mbak jika puasa ramadhan bisa dijadikan EVALUASI DIRI. Anggapsaja Allah memberikan BIG SALE bonus gede kepada umatNYa untuk bertobat, memanfaatkan kesempatan bulan suci ini memperbaiki diri lebih baik

    ReplyDelete
  2. Saya seneng banget jika para Nonis berburu takjil, itu artinya para pedagang makin laris. Tapi tetep ingat ada batasan-batasan yang harus kita jaga, jangan sampai dengan landasan toleransi jadi kebablasan.

    ReplyDelete
  3. Yup..setiap ramadhan meski ada perubahan dari tahun lalu agar kita bisa mengintropeksi diri merubahnya lebih baik lagi di ramadhan sekarang... Kebetulan aku sih selalu bikin sendiri takjil di rumah kesukaan keluarga

    ReplyDelete
  4. Masya Allah semangat banget ..semoga ramadan kita lebih produktif dan bernilai ibadah

    ReplyDelete
  5. Betul banget kak. Ramadan emang ajang evaluasi diri. Jangan sampe malah lbh buruk dripada th lalu.
    War takjil yg viral di sosmed ini seru banget. Aku suka liat keberagaman agama di Indonesia yg akur dan saling toleransi begitu

    ReplyDelete
  6. Lah iya, sekarang sedang viral di sosmed war takjil wkwkwk, tapi menyenangkan sih melihat penjual takjil sekarang lebih semangat dan menjadi rezeki di bulan Ramadan. Bagi aku, selain bersyukur bisa bertemu kembali di bulan yang mulia dan suci ini, juga menjadi momen untuk evaluasi diri agar lebih baik lagi dari bulan Ramadan lalu.

    ReplyDelete
  7. Tentang penambahan kualitas ini sedang saya upayakan, Mba. Nggak mau rugi kalau ramadan sekarang sama bahkan kurang dibandingkan ramadan sebelumnya. Semangat selalu, Mba!

    ReplyDelete
  8. Ramadhan emang bulan yang mulia semuanya penuh dengan barokah. Tapi jangan sampai deh riweuh ngurusin makanan aja jadi lupa meningkatkan ibadah dan evaluasi diri

    ReplyDelete
  9. Puasa tuh penuh cerita. Ceruta berburu takjil aja panjanh ya

    ReplyDelete
  10. Ramadan tahun ini diramaikan dengan war takjil dan saudara non-muslim turut meramaikan. Saya melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Apalagi penjualnya, pasti positif banget.

    ReplyDelete
  11. Seru juga ya baca tentang war takjil. Tapi emang loh klo pas puasa itu, jajanannya banyak ragamnya, yang kadang2 tidak ada ketika di bulan2 biasa. Makanya ga heran, yang non muslim pun juga ingin memeriahkan suasana perburuan takjil. Enak enaaakk soalnya loh jajanan yang ditawarkan untuk berbuka puasa.

    ReplyDelete
  12. Pernah lihat war takjil nih di salah satu stasiun TV dan baru ngeh kalau ternyata varian takjil sudah semakin banyak ya, kalau puasa tuh sepertinya semua mau dimakan aja saat bedug berkumandang, eh ternyata cuma 1 atau 2 biji sudah kenyang

    ReplyDelete
  13. Ramadan waktunya upgrade ibadah. Meski selepas Ramadan kita malas lagi, seenggaknya tiap Ramadan kita semangat lagi... Selalu syukur bisa ketemu Ramadan.

    ReplyDelete

Post a Comment