Review Creepy Case Club Part 1

4 comments

 

Novel ini seru banget! Mengangkat tema tentang detektif cilik, persahabatan, dunia game, perkembangan teknologi, sekaligus dibumbui cerita horror. Bagian horrornya tidak terlalu seram, jadi cocok juga dibaca anak-anak

 

Vibesnya segar dan seru, karena kasus hantu dan teknologi aku belum pernah baca selain di creepy case club ini. Eh, hal ini juga mengingatkanku kalau kasus hantu seperti dua sisi koin: percaya ngga percaya.

 

Review Creepy Case Club Part 1

Creepy Case Club : Kasus Nyanyian Berhantu

Soleram

Soleram

Soleram

Anak yang manis

Anak manis janganlah dicium sayang

Kalau dicium merah lah pipinya

 

Satu dua

Tiga dan empat

Lima enam

Tujuh delapan

Kalau tuan dapat kawan baru sayang

Kawan lama ditinggalkan jangan

 

Ada yang ingat dengan lirik lagu diatas? Tentu tidak aneh karena bisa jadi salah satu lagu yang dinyanyikan ketika pelajaran kesenian di SD. Lagu yang liriknya sederhana alias cepat selesai untuk dinyanyikan.

 

Creepy Case Club nama serinya. Mengisahkan tiga orang anak kelas 5 SD bernama Namira, Jani, dan Vedi. Dengan keunikan karakter masing-masing. Namira anak baru penyuka dongeng tapi idolanya adalah tokoh penjahat dalam dongeng tersebut. Jani, ketua kelas dan pintar, kebalikan dari Namira, Jani ini suka sekali dengan tokoh putri dalam dongeng. Vedi, penampilannya yang khas kutu buku dan penyuka astronomi, paling tidak suka dengan hal yang diluar logika.

 

Menceritakan misteriusnya lagu soleram tapi bukan bahas lirik yang mengandung misteri. Beredar rumor di kelas SD Baruna Vidya, kalau lagu ini dinyanyikan akan muncul sosok misterius. Mereka bertiga bekerja sama untuk menguak misteri di balik lagu tradisional berjudul Soleram.

 

Bagaimana perjalanan mereka bertiga dalam menguak kisah dibalik misteri lagu sorelam?

 

Paling menarik dari buku ini adalah bagaimana penulis menggunakan fakta-fakta untuk menjelaskan semua misteri. Termasuk misteri hantu, bagaimana kontak itu terjadi, hingga kenapa penampakan bisa muncul terkait sebuah peristiwa di masa lalu. Semua dijelaskan dengan menyesuaikan logika berpikir untuk segmentasi pembaca SD.

 

Creepy Case Club : Kasus Anak Indigo

Merupakan novel kedua dari Creepy Case Club. Setelah seri pertama dibuka dengan kasus lagu sorelam, membuat persahabatan Namira, Jani, dan Vedi sudah semakin solid dan erat.

 

Trio detektif cilik penyelidik kasus misterius kembali! Setelah Namira, ada anak baru lagi di sekolah, dan dia ditempatkan sekelas dengan Namira, Jani, dan Vedi. Anak baru yang namanya Parva ini punya kelebihan untuk melihat makhluk-makhluk tak kasatmata, dan hal ini membuatnya dianggap sebagai anak aneh dan dikucilkan.

 

Hanya Namira yang tak gentar mendekati Parva dan mengajaknya berteman. Ternyata, ada masalah pelik yang sedang Parva hadapi, dan dia butuh bantuan.

 

Disaat Namira mengajak kedua sahabatnya untuk membantu Parva, ia dihadapkan pada penolakan dari kedua sahabatnya. SD Baruna Vidya sedang disibukkan dengan persiapan bazar besar sekolah.

 

Apakah Creepy Case Club akan kembali menyelidiki kasus misterius dan membantu Parva keluar dari masalahnya?

 

Bagi para pecinta misteri tentu tidak asing dengan istilah anak indigo.Di cerita ini, sang penulis mencoba bermain dengan fenomena anak indigo. Bahkan beberapa pengetahuan tentang anak-anak indigo disuguhkan melalui narasi maupun dialog.

 

Di buku bahkan dijelaskan bahwa indigo adalah warna aura dari orang-orang yang memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan alam gaib. Penasaran ngga sih, aura kita warnanya apa?

 

Saya menikmati gaya percakapan ketiga anak ini, lengkap dengan celetukan-celetukan yang sangat ampuh menunjukkan kepribadian mereka masing-masing. Proses mereka berteori dan menarik kesimpulan

 

Alur ceritanya sangat cocok untuk segmentasi pembaca anak karena ringan. Bahkan sebagai pembaca bukan anak macam diriku, suka dengan plot twist dari kisah ini.

 

Creepy Case Club : Kasus Kutukan Congklak

Buku ketiga Creepy Case Club ini, Namira, Jani, dan Vedi sudah jadi anak kelas 6 SD. Ku kira tokohnya akan dibuat dengan usia kelas 5 terus.

 

Pada buku ketiga, kita akan berkenalan dengan permainan tradisional, yaitu Congklak. Ada yang tahu dengan permainan congklak? Apalagi Ramadan saat ini, enaknya main congklak ya ga sih.

 

Buku ketiga, giliran Jani "Si Princess" yang kena batunya. Gara-gara melanggar aturan museum dan memainkan congklak berukir kepala manusia yang sudah sangat tua umurnya sampai-sampai petugas museum saja tidak tahu menahu secara dalam kisah dibalik congklak tersebut.

 

Permainan congklak tentu tidak bisa dimainkan sendiri. Benar, Jani enggak sendirian. Dia main dengan Zahra, sahabat lamanya sebelum terlibat Creepy Case Club bersama Namira dan Vedi. Anehnya, yang kena kutukan ketiban sial beruntun hanya Jani. Sementara Zahra yang mencuri dua biji congklak malah baik-baik saja.

 

"Kalau kutukan bekerja karena ada benda yang dicuri , kutukan akan berhenti pada benda itu dikembalikan. Kalau kutukan itu dijatuhkan oleh seseorang, kutukan berhenti kalau orang itu mencabut kutukannya."

(Hal.185)

 

Di sinilah, sisi lain kehidupan sang princess akhirnya terungkap. Demikian juga dengan masa lalu yang terlupakan dari sejarah congklak misterius itu. Apakah Creepy Case Club saat ini berhasil melepas kutukan yang menimpa Jani?

 

Creepy Case Club memberikan petualangan tidak hanya bagi orang dewasa namun juga untuk yang masih kecil. Tidak memberikan rasa takut justru meningkatkan unsur petualangan dan kekompakan pertemanan

 

Creepy Case Club buku ketiga lebih berkesan dari dua buku sebelumnya. Ada banyak lika-likunya. Mulai dari kasus dengan membawa latar permainan tradisional congklak hingga membawa mereka ke sebuah sejarah yang terlupakan.




Related Posts

4 comments

  1. Lagi Soleram yang dinyanyikan waktu SD, hmm aku mulai menerka-nerka berapa usia si penulis haha..Genre detektif dibalut misteri dan hantu cukup menarik untuk dibaca sekali duduk. Btw, benarkahbuku Creepy Case Club bisa dibaca sekali duduk Kak?

    ReplyDelete
  2. menarik ceritanya mbak, aku suka, sudha lama ga baca buku misteri seperti ini, gpp la walaupun tokohnya anak SD tapi sepertinya masih menarik dibaca orang dewasa juga

    ReplyDelete
  3. Wah ini buki misteri ya. Apakah cocok untuk anak usia 10 tahun?

    ReplyDelete
  4. Jarang-jarang ada buku misteri anak yang ditulis sama orang Indonesia. Baca review ini jadi ingat dengan karya-karya Enid Blyton, seperti Pasukan Mau Tahu dan Lima Sekawan. Jadi penasaran sama buku ini.

    ReplyDelete

Post a Comment