Dunia
kerja hari ini adalah ruang pertemuan lintas generasi. Jika dulu satu kantor
bisa didominasi oleh satu kelompok usia, kini suasananya jauh lebih berwarna. Seperti
halnya yang suka tergambarkan pada banyaknya tren viral di sosial media.
Dunia
Kerja Beriringan Lintas Generasi
Generasi
milenial seperti Jelajah Mia saat ini pada umumnya di fase produktif dan banyak
mengisi posisi strategis. Tentu tidak hanya bekerja untuk generasi milenial
tapi generasi lebih muda yaitu Gen Z. Generasi yang lebih muda, lebih melek
digital, dan membawa perspektif baru yang sering kali segar sekaligus
menantang.
Bagi
sebagian milenial, berinteraksi dan bekerja dengan Gen Z bisa terasa seperti
menghadapi “dunia baru”. Cara mereka berpikir, berkomunikasi, hingga merespons
pekerjaan sering kali berbeda. Namun, di balik perbedaan itu, ada peluang besar
untuk saling belajar dan tumbuh bersama.
Perbedaan
Karakter Gen Milenial dan Gen Z
Memahami
perbedaan adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang sehat. Tanpa
pemahaman ini, mudah sekali muncul prasangka misalnya menganggap Gen Z terlalu
santai, atau sebaliknya, Gen Z melihat milenial terlalu kaku.
1.
Cara Berkomunikasi
Milenial
tumbuh di masa transisidari komunikasi konvensional ke digital. Generasi yang masih
terbiasa dengan email formal, rapat terstruktur, dan etika komunikasi yang
cukup baku. Efek pembelajaran dengan generasi diatasnya.
Sebaliknya,
Gen Z lahir di era digital sepenuhnya. Mereka lebih nyaman dengan komunikasi
cepat seperti chat, voice note, atau bahkan pesan singkat yang to the point.
Kadang,
gaya ini dianggap kurang sopan oleh milenial, padahal bagi Gen Z, itu adalah
efisiensi. Lebih suka yang simple-simpel.
2.
Pola Pikir terhadap Pekerjaan
Milenial
cenderung memiliki mindset “bertahan dan berkembang”. Mereka terbiasa dengan
proses, loyalitas, dan naik tangga karier secara bertahap.
Gen Z
lebih berani dalam menentukan batasan. Mereka tidak segan mencari lingkungan
kerja yang lebih sehat, fleksibel, dan sesuai dengan value pribadi. Bagi
mereka, work-life balance bukan sekadar jargon. Tentu tidak asing dengan
istilah teng-go, kurang lebih seperti itulah gambarannya
3.
Cara Belajar dan Bekerja
Milenial
terbiasa dengan sistem belajar yang terstruktur. Mereka menghargai arahan,
proses, dan pengalaman.
Gen Z lebih
eksploratif. Mereka belajar cepat melalui internet, trial and error, dan sering
kali tidak takut mencoba cara baru meski belum tentu sesuai aturan yang
berlaku.
4.
Respons terhadap Otoritas
Milenial
umumnya masih menghormati hierarki. Mereka terbiasa dengan sistem atasan-bawahan
yang jelas.
Gen Z
lebih egaliter. Mereka menghargai pemimpin yang bisa diajak diskusi, bukan
sekadar memberi perintah.
Empat perbedaan
ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami sebagai warna yang saling
melengkapi. Maka dari itu perlu adanya kolaborasi lintas generasi demi saling
melengkapi.
Kiat
Bersahabat dengan Gen Z di Dunia Kerja
Menjadi
milenial yang bekerja bersama Gen Z bukan berarti harus “menjadi mereka”.
Justru, kuncinya adalah menemukan titik tengah antara adaptasi dan prinsip.
1.
Beradaptasi
Beradaptasi
bukan berarti meniru sepenuhnya. Milenial bisa mulai dari hal sederhana:
memahami gaya komunikasi mereka, lebih terbuka pada ide baru, dan tidak
langsung menghakimi cara kerja yang berbeda.
Namun,
penting juga untuk tetap menjaga nilai profesional. Misalnya, tetap menekankan
etika komunikasi, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pekerjaan.
2.
Membangun komunikasi
Gen Z
tidak suka hanya “diperintah”. Mereka ingin didengar. Maka, cobalah mengajak
diskusi, bukan hanya memberi instruksi.
Tanyakan
pendapat mereka, libatkan dalam pengambilan keputusan kecil, dan beri ruang
untuk mereka menyampaikan ide.
Hal ini
bukan hanya membuat mereka merasa dihargai, tapi juga membuka peluang munculnya
inovasi.
3.
Sama-sama belajar
Salah
satu jebakan yang sering terjadi adalah merasa lebih senior berarti lebih
benar. Padahal, Gen Z memiliki banyak keunggulan, terutama dalam hal teknologi,
tren digital, dan cara berpikir cepat.
Alih-alih
merasa tersaingi, milenial bisa mengambil posisi sebagai “learning partner”.
Kita bisa berbagi pengalaman, sementara mereka berbagi perspektif baru.
Hubungan kerja pun menjadi lebih sehat dan setara.
4.
Memberi arahan dengan pendekatan
Gen Z
cenderung tidak merespons dengan baik terhadap tekanan berlebihan. Mereka lebih
menerima arahan yang disampaikan dengan alasan yang jelas dan pendekatan yang
manusiawi.
Alih-alih
berkata, “Ini harus seperti ini karena saya bilang begitu,” cobalah menjelaskan
“mengapa” sesuatu perlu dilakukan. Mereka akan lebih mudah memahami dan
menjalankannya dengan kesadaran, bukan keterpaksaan.
5.
Tetap mendidik, bukan permisif
Ini
adalah poin penting. Beradaptasi bukan berarti membiarkan semua hal. Ada
batasan yang tetap harus dijaga, terutama terkait etika kerja, tanggung jawab,
dan profesionalitas.
Jika ada
sikap yang kurang tepat, misalnya tidak disiplin, kurang menghargai waktu, atau
komunikasi yang kurang sopan tetap perlu ditegur. Namun, cara menyampaikannya
yang perlu diperhatikan.
Gunakan
pendekatan yang membangun, bukan menghakimi. Fokus pada perilaku, bukan
menyerang pribadi. Misalnya, alih-alih berkata “Kamu tidak profesional,” lebih
baik mengatakan, “Akan lebih baik kalau kita bisa lebih tepat waktu agar kerja
tim tidak terganggu.”
6.
Menghargai batasan mereka
Gen Z
dikenal lebih tegas dalam menjaga batasan, termasuk soal waktu kerja dan
kesehatan mental. Ini adalah hal positif yang bisa dipelajari.
Namun,
sebagai tim, tetap perlu ada keseimbangan. Milenial bisa menjadi
jembatan—menghargai kebutuhan individu sekaligus memastikan target tim tetap
tercapai.
Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Pada
akhirnya, hubungan antara milenial dan Gen Z di dunia kerja bukan tentang siapa
yang lebih unggul. Ini tentang bagaimana dua generasi dengan latar belakang
berbeda bisa saling melengkapi.
Milenial
membawa pengalaman, ketahanan, dan pemahaman proses. Gen Z membawa kecepatan,
kreativitas, dan keberanian untuk berubah. Ketika keduanya bertemu dengan
mindset yang terbuka, hasilnya bisa luar biasa.
Menjadi
milenial yang bersahabat dengan Gen Z bukan berarti harus selalu mengalah,
tetapi juga bukan berarti harus selalu mengarahkan. Ada kalanya kita menjadi
mentor, ada kalanya kita menjadi teman belajar.
Penutup
Karena
pada akhirnya, dunia kerja bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang
bagaimana kita tumbuh bersama di dalamnya.
Apakah
generasi milenial seperti Jelajah Mia relate dengan tulisan ini? Gen Z yang
membaca tulisan ini bisa juga loh menyampaikan unek-uneknya disini biar
sama-sama terus belajar.




Intinya komunikasi sih kalo mau berurusan sama genz. Karena genz suka banget kalo pemimpinnya bisa diajak diskusi, tentunya yang nggak kolot juga. Oh iya satu lagi, berangkat mepet jam kerja dan pulang tenggo adalah prinsip mutlak yang nggak bisa diganggu gugat, ahaha.
ReplyDeleteDua generasi yg berbeda. Seringkali gen milenial dianggap kolot dan kaku, sementara gen Z sering dianggap terlalu idealis. Namun dengan komunikasi yg baik antara keduanya diharapkan dapat terjalin kerjasama yg selaras di dunia kerja.
ReplyDeleteKalau aku mikirnya karena genZ itu masih muda, mereka perlu mencoba banyak hal baru, jadi mereka bener2 memanfaatkan waktu dengan baik. Satu hal yang paling ku suka dari genZ adalah mereka jiwa eksplorasinya luar biasa, open minded, dan idenya mind blowing banget. Kadang bikin hah? Tapi wow gitu lho..mereka low profile padahal idenya cemerlang. Sejauh ini aku bergaul dan bekerja sama dengan genZ yang cerdas dan keren banget. Masya Allah.
ReplyDeleteTimku ini mbak, sebagian milenial, sebagian gen Z, ya ampyun unik kok, tapi aku suka, mereka gercep, tapi kurang tangguh, plus minus sih ya, tinggal kita membuatnya kompak dan sasaran departemen tercapai, jadi ya kuambil sisi positifnya aja, dari yang kreatif, tangguh, kepoan apapun itu dikombinasikan aja.
ReplyDeleteAku berhadapan dengan baby boomer, milenial dan gen Z, nano-nano kan jadinya wkwkwk
Merasakan lagi, bagaimana dinamikanya kerja bareng gen Z. Asyik sih lihat antusias mereka, apalagi soal perkembangan gadget, ngebantu banget buat kerjaan kita.
ReplyDeleteDi sisi lain ada juga yang bikin pusing lihat kelakuan mereka, which is kerja nya kaya moody. Kalau lagi ga mau masuk kerja, ya udah mereka ga masuk aja.. Hah?
Alhamdulillah aku berteman dengan milenial dan Gen Z. Kalo di dunia pertemanan mereka semua sama-sama seru dengan karakteristik masing-masing. Kalo di dunia kerja aku nggak ngerti, tapi kayaknya nggak jauh beda sih hehe. Aku setuju, kolaborasi bukan kompetisi. Kalo satu tim, satu circle, satu visi dan misi, ya ngapain harus berkompetisi sih ya? Kan emang lebih baik berkolaborasi untuk mencapai prestasi dan tujuan bersama. Ini berlaku juga buat rekan segenerasi, bukan hanya lintas generasi. Kompetisi itu capek, mending kolaborasi aja....kalo bisa.
ReplyDeleteTeh, aku juga milenial. Meski tidak bekerja, aku merasakan komunikasi dengan gen-Z itu berbeda. Mereka lebih berani. Awalnya merasa tidak sopan, tetapi lama kelamaan berusaha mengerti menang dari awal masanya sudah beda.
ReplyDelete