Adakah yang merasa setiap pagi terasa biasa
saja?
Alarm berbunyi,
notifikasi masuk tanpa jeda, dan daftar pekerjaan sudah menunggu untuk
diselesaikan. Semuanya berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang
benar-benar salah.
Tapi entah kenapa, ada yang terasa kosong. Aku
tetap menjalani hari seperti biasa bekerja, berinteraksi, tersenyum saat
dibutuhkan, bahkan menjawab “aku baik-baik saja” tanpa ragu. Dari luar,
semuanya terlihat terkendali.
Tapi di dalam, aku seperti kehilangan koneksi…
dengan diriku sendiri. Dan mungkin, kamu juga pernah ada di titik itu. Tidak
benar-benar hancur, tapi juga tidak benar-benar hidup.
Kita Terbiasa Kuat, Tapi Lupa Merasa
Seiring
bertambahnya usia, kita semakin terbiasa untuk menahan.
Menahan
lelah.
Menahan
kecewa.
Menahan
cerita yang rasanya tidak perlu dibagikan ke siapa-siapa.
Kita
belajar untuk tetap berjalan, meskipun berat. Untuk tidak mengeluh, karena
merasa orang lain juga punya beban masing-masing.
Tapi tanpa sadar, kita juga mulai menjauh dari diri sendiri. Kita sibuk memenuhi ekspektasi, menyelesaikan tanggung jawab, dan menjaga semuanya tetap terlihat “baik-baik saja”… sampai akhirnya lupa bertanya:
“Aku sebenarnya lagi ngerasa apa, ya?”
Titik Hening yang Awalnya Terasa Canggung
Sampai
suatu hari, aku merasa terlalu penuh.
Bukan
penuh kebahagiaan, tapi penuh hal-hal yang tidak sempat diproses. Akhirnya, aku
memutuskan untuk berhenti sejenak. Aku duduk diam. Tanpa ponsel. Tanpa
distraksi. Tanpa tujuan jelas selain ingin benar-benar hadir.
Awalnya
canggung. Sunyi terasa aneh. Bahkan sedikit tidak nyaman. Tapi dari situlah,
perlahan muncul sesuatu yang selama ini tertutup oleh kesibukan. Suara kecil
dari dalam diri.
“Capek, ya?”
Dan untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, aku menjawab dengan jujur, “Iya.” Sederhana,
tapi terasa seperti membuka pintu yang sudah lama terkunci.
Dimulai dari Hal Sederhana
Sejak
momen itu, aku mulai belajar untuk lebih sering “menemui” diriku sendiri. Bukan
dengan cara yang rumit. Hanya dengan hal-hal kecil yang sering kita anggap
sepele.
Seperti
berjalan tanpa tujuan sambil membiarkan pikiran mengalir. Seperti duduk sendiri
tanpa merasa harus produktif. Seperti bertanya pelan dalam hati, “Hari ini aku
lagi butuh apa?” Tidak selalu ada jawaban. Kadang hanya diam.
Tapi
justru di situlah prosesnya terjadi. Karena terkoneksi dengan diri sendiri
bukan tentang selalu memahami segalanya, tapi tentang mau mendekat meskipun
perlahan.
Belajar Jujur Lewat Tulisan
Salah
satu hal yang paling membantu adalah menulis.
Bukan
untuk terlihat pintar.
Bukan
untuk dibaca orang lain.
Tapi
untuk jujur.
Aku mulai
menuliskan apa yang sebenarnya aku rasakan. Tentang lelah yang tidak terlihat.
Tentang kekhawatiran yang tidak pernah diucapkan. Tentang hal-hal yang selama ini
hanya berputar di kepala.
Dan
ternyata, banyak yang selama ini aku pendam… hanya karena aku merasa harus
kuat. Padahal, kuat bukan berarti tidak punya rasa.
Kadang,
justru dengan mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, kita sedang
menguatkan diri dengan cara yang lebih sehat.
Cara Kita Memperlakukan Diri Sendiri
Ada satu
pertanyaan yang akhirnya mengubah cara pandangku:
“Kalau aku bukan aku, kira-kira aku akan memperlakukan diriku seperti apa?”
Jawabannya
membuatku diam cukup lama. Karena ternyata, aku terlalu keras pada diriku
sendiri. Aku menuntut diriku untuk selalu bisa. Selalu kuat. Selalu tidak
merepotkan orang lain.
Padahal
kalau itu terjadi pada orang yang aku sayangi, aku pasti akan bilang:
“Tidak
apa-apa kalau capek.”
“Istirahat
dulu juga boleh.”
“Kamu
tidak harus selalu kuat.”
Sejak
saat itu, aku mulai belajar memperlakukan diriku sendiri dengan cara yang sama.
Lebih
lembut.
Lebih
sabar.
Lebih
manusiawi.
Bukan Berarti Tidak Butuh Didengar
Ada
kalanya kita memilih diam, bukan karena tidak punya beban, tapi karena tidak
ingin terlihat lemah. Dan itu tidak salah.
Tapi
penting untuk diingat, tidak semua hal harus dipendam sendirian setidaknya,
jangan dipendam dari diri sendiri. Kamu boleh tidak menceritakan semuanya ke
orang lain.
Tapi
jangan sampai kamu juga tidak mengakui perasaanmu sendiri. Karena terkoneksi
dengan diri sendiri dimulai dari keberanian untuk berkata jujur:
“Aku lagi
capek.”
“Aku lagi
berat.”
“Aku
butuh jeda.”
Dan itu
bukan tanda kelemahan.
Itu tanda
bahwa kamu masih peduli dengan dirimu sendiri.
Merasa Hidup Lagi
Hari ini,
hidupku masih sama.
Tuntutan
masih ada.
Pekerjaan
masih berjalan.
Tekanan
tidak hilang begitu saja.
Tapi ada
satu hal yang berubah:
Aku tidak
lagi mengabaikan diriku sendiri.
Aku mulai
mendengarkan.
Mulai
memahami.
Mulai
hadir bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diriku sendiri. Dan
ternyata, merasa hidup itu bukan tentang hidup tanpa masalah. Tapi tentang
tetap bisa merasakan, bahkan di tengah tekanan.
Untuk Kamu yang Diam-Diam Lelah
Kalau
kamu sedang berada di fase di mana semuanya terasa berat tapi kamu tetap
berjalan tanpa mengeluh… Mungkin kamu kuat.
Tapi
mungkin juga kamu hanya belum sempat berhenti. Coba beri dirimu waktu sebentar
saja. Duduk. Diam. Tarik napas. Lalu tanya pelan-pelan:
“Aku lagi butuh apa?”
Tidak
perlu buru-buru menemukan jawaban. Cukup mulai dari hadir. Karena sering kali,
yang kita cari bukan solusi instan. Tapi koneksi yang jujur… dengan diri
sendiri. Dan dari sana, pelan-pelan, rasa hidup itu akan kembali.
Penutup
Dan
mungkin, pada akhirnya, hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi kuat
sepanjang waktu. Kadang, hidup hanya ingin kita lebih jujur pada lelah, pada
luka, dan pada diri sendiri.
Jadi
kalau hari ini kamu masih bertahan, masih berjalan meski pelan, itu sudah
cukup. Tidak perlu selalu terlihat hebat, tidak perlu selalu punya jawaban.
Yang
penting, kamu tidak lagi meninggalkan dirimu sendiri. Karena saat kamu mulai
kembali terhubung dengan dirimu, di situlah hidup perlahan akan terasa utuh
lagi.




Iya, aku pun kerap merasa capek, Kak. Dengan pikiran-pikiranku sendiri, dengan tingkah polah orang sekitar, dengan rutinitas yang tiada habisnya. Kadang begitu peduli pada orang lain dan lupa memeluk diri sendiri. Makasih reminder-nya ya Kak...
ReplyDeleteMenulis memang obat mujarab untuk menyembuhkan diri sendiri. Dulu saat lelah aku merasa pulih dengan menulis. Sekarang aku merasa lelah bahkan untuk sekedar menulis. Tapi memang benar, pulihkan diri dengan menulis.
ReplyDeleteWah, tulisan ini ngena banget di hati saya. Jujur, selama ini saya sering merasa bersalah kalau lagi nggak produktif atau lagi merasa sedih. Tapi lewat artikel ini, saya jadi belajar untuk lebih berdamai dengan diri sendiri. Kadang istirahat dan mengakui kalau kita sedang tidak baik-baik saja itu justru bentuk keberanian yang luar biasa. Terima kasih sudah berbagi perspektif yang menyejukkan ini mbak.
ReplyDeleteBetul Mbak Mia, hadir untuk diri sendiri bisa membuat kita fresh kembali. Sejenak merenung apa yang sedang kita hadapi dan menulis bisa mengarahkan apa yang kita inginkan
ReplyDeleteMembaca tulisan pada artikel ini jadi pengingat untuk saya pribadi, ya. Makasih loh kak, udah mengingatkan saya yang sedang having a problem ini. Memang iya sih, kadang perlu waktu menyendiri untuk melepaskan lelah dan menguapkan semuanya.
ReplyDeleteYang penting kalau masih berjalan meski pelan, gpp. Setiap orang punya proses dan tantangan yang berbeda dalam hidup. Intinya setiap orang adalah orang hebat.
ReplyDeleteRutinitas membunuhku. Kalau aku, sih, untuk mengatasinya sering memanfaatkan waktu antar jemput anak-anak. Jarak rumah ke sekolah sekitar 500m dan aku biasa jalan kaki. Cukup tuh waktu sekitar 5–10 menit untuk ngelamun, hhe.
ReplyDeleteAku pernah ada di fase ini juga. Hari berlalu dengan rutinitas kayak biasa rasanya aneh dan kosong. Emang baik juga sesekali tanpa handphone walau awalnya hening tapi kita jadi bisa terkoneksi dengan diri sendiri. Soalnya kalau terlalu banyak lihat medsos aku merasa penuh sama informasi yg aku sendiri sebenernya nggak aku butuhkan.
ReplyDeleteJika bukan dirinini yang peduli, siapa lagi yang akan peduli. Menyapa diri itu penting menurutku setidaknya kita tahu apa yang diperlukan diri ini dan itu salah satu bentuk self care, bagaimana kita bisa mengalirkan energi dan cinta untuk sekitar jika kita tak pernah mengisinya
ReplyDeleteKalau sekarang saya sendiri mulai belajar untuk berdamai dengan kehidupan, tak ngoyo dan slow living aja. Dalam pekerjaan pun sekarang mah bekerja sesuai tupoksi aja, tak perlu berlebihan. Intinya kalau orang lain santai, mengapa saya harus sibuk?
ReplyDelete