Adil Bersikap Saat Menerima Rezeki

10 comments

 

Menjelang akhir tahun bagaimana kabar job/Kerjasama yang sobat Jelajah Mia dapatkan selama 2025 ini? Apakah sudah sesuai target atau belum?

 

Adil bersikap saat menerima rezeki



Sebelumnya Jelajah Mia ajak ngobrol seputar circle pertemanan, saat ini mari kita berdiskusi Adil bersikap ketika menerima rezeki. Simak hingga akhir, ya!

 

Adil Bersikap Saat Menerima Rezeki

Pernah suatu kali saat sobat Jelajah Mia menerima sebuah job dengan fee yang lumayan besar. Semua tampak lancar: kontrak sudah disepakati, konten sudah tayang, dan dari pihak agency/kerjasama pun tak ada keluhan.

 

Tapi setelah semua selesai, sobat Jelajah Mia mulai berpikir apakah hasilnya sudah sepadan dengan nilai yang kuberikan?

 

Ketika melihat kembali performa postingan, sobat Jelajah Mia sadar bahwa angka performa tidak sepenuhnya tercapai. Engagement lebih rendah dari biasanya, dan reach tak sesuai target.

 

Agency mungkin menganggapnya hal biasa, toh mereka bilang “It’s okay, Kak, hasilnya tetap bagus kok.” Tapi di dalam hati, ada perasaan tak tenang.

 

Bukan karena takut, tapi karena ingin adil.

 

Adil Pada Diri Sendiri dan Orang Lain

Kadang, keadilan bukan soal membagi dua dengan tepat, melainkan tentang menempatkan diri secara proporsional.

 

Ketika kita menerima sesuatu terutama rezeki dalam bentuk apa pun ada tanggung jawab moral yang ikut menyertainya.

 

Dalam kasus itu, aku memilih untuk membalas dengan cara lain. Tidak tertulis di kontrak, tidak tercatat di laporan, tapi aku ingin menyeimbangkan nilai yang kuterima.

 

Jadi, aku memutuskan untuk share ulang postingannya beberapa kali, berinteraksi lebih aktif di kolom komentar, bahkan membuat story tambahan untuk memperkuat pesan postingan yang ingin disampaikan itu.

 

Mungkin kecil nilainya secara hitungan, tapi bagiku, itu bentuk adil bersikap mengembalikan energi baik dengan cara yang tulus, bukan karena tuntutan.

 

Keadilan yang Tak Tertulis

Adil bukan berarti selalu harus dihitung. Kadang keadilan hidup justru hadir di wilayah yang tak bisa diukur. Atau ada yang suka bilang, adil bukan persoalan sama rata tapi tentang sesuai dengan porsinya masing-masing.

 

Saat kita diberi rezeki lebih banyak kemudahan, peluang, atau kepercayaan itu tanda bahwa kita punya ruang lebih luas untuk berbagi.

 

Contohnya, ketika hidup terasa mudah: kerjaan lancar, urusan keluarga tenang, dan segalanya terasa mengalir. Di momen seperti itu, justru jangan berhenti di rasa syukur saja.

 

Jadikan kelapangan itu sebagai kesempatan untuk membantu yang sedang sempit. Tidak harus besar. Bisa dimulai dari hal-hal kecil:

  • Mengajarkan teman cara membuat sesuatu yang menarik.
  • Membantu postingan atau usaha teman dengan repost sederhana.
  • Menjadi pendengar yang sabar untuk seseorang yang sedang lelah.
  • Atau sekadar memberi komentar penyemangat di postingan seseorang yang mulai berjuang lagi.

 

Tindakan kecil seperti itu kadang menjadi bentuk “bayaran tambahan” untuk rezeki yang telah kita terima.

 

Adil Itu Soal Integritas

Kita tidak bisa mengatur besar kecilnya rezeki, tapi kita bisa mengatur bagaimana cara bersikap terhadapnya. Orang lain mungkin tidak akan tahu seberapa jauh kita berusaha menebus kekurangan, tapi Tuhan tahu.

 

Adil bukan hanya tentang perlakuan kepada orang lain, tapi juga pada diri sendiri agar hati tetap bersih, niat tetap lurus, dan pekerjaan terasa ringan karena dilakukan dengan sepenuh hati.

 

Jadi, setiap kali kita menerima sesuatu yang terasa “lebih” dari seharusnya, jangan buru-buru bersorak.

 

Ambillah waktu sejenak untuk menakar ulang:

“Apakah aku sudah memberi nilai yang setara dengan yang aku terima?”

 

Kalau belum, tambahkan sedikit kebaikan di sana-sini. Tak perlu dilihat orang, cukup menjadi saksi antara diri sendiri dan Allah.

 

Penutup

Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya soal uang yang datang, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga keseimbangannya agar tak merusak rasa syukur di hati.

 


Related Posts

10 comments

  1. Kereeen syekaliii. Ini kayak reminder buat aku juga yang sering ngejob. Harus adil sesuai porsinya. Bukan membagi sama rata, tapi menghitung secara proportional.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih pengingatnya Teh Mia. Kalau aku bulan kemarin merasa bersalah sama blog karena lebih banyak postingan job daripada organik. Jadi, pas lagi luang gini nggak boleh males-malesan, harus nulis organik. Biar postingannya tetap seimbang pas nantinya ada job. Job kan datangnya nggak bisa diprediksi, ya, kalau lagi rame, ya, rame sampai begadang. Kalau sepi krik krik krik bikin gabut.

    ReplyDelete
  3. Poin tentang keadilan yang tak tertulis dan integritas itu sangat mendalam, mbak. Bahwa adil bukan soal hitungan kontrak, tapi tanggung jawab moral untuk mengembalikan energi baik. Seringkali rezeki yang 'lebih' dari orang lain adalah ruang bagi kita untuk lebih banyak berbagi. Insightful sekali!

    ReplyDelete
  4. Menyikapi rejeki ini yang belum semua orang bisa melakukannya, termasuk aku wkwk. Makasih loh mbak Miaaa udah nulis ini, jadi reminder buat aku supaya lebih bisa menyikapi rejeki yang ku dapat.

    ReplyDelete
  5. Kalau saya alhamdulillah di 2025 ini job lumayan lancar, -termasuk job di blog dan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kedua belah pihak puas dan adil dengan brief yang diberikan, tapi biasanya misal dari brand tidak mengharuskan laporan viewers dan komen pun sebisa mungkin saya ikutkan blogwalking sebagai bentuk apresiasi atas job yang kita terima

    ReplyDelete
  6. Tulisan ini kerasa banget jujurnya. Kadang hal kayak gini memang nggak kelihatan dari luar, tapi berisik di hati sendiri. Aku relate sama bagian “adil itu soal integritas”, karena bener… bukan agency atau orang lain yang nuntut, tapi hati kita sendiri. Justru hal-hal kecil kayak ekstra effort, repost, atau bantu tanpa diminta itu yang bikin hati lebih tenang. Artikelnya ngingetin kalau rezeki bukan cuma diterima, tapi juga dijaga caranya. Makasih sudah nulis ini, jadi bahan refleksi juga buat pembaca.

    ReplyDelete
  7. Refleksi diri banget dan mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri. Berusaha menerima setiap kekurangan diri dan mencoba memperbaiki di tahun depan

    ReplyDelete
  8. Artikel yang apik, jadi reminder untukku juga sudahkah aku berbuat adil, karena memang adil bukan perkara besar atau kecilnya saja

    ReplyDelete
  9. Saya malah jarang terpikir untuk adil saat menerima rezeki. Pengingat yang luar biasa!

    ReplyDelete
  10. Kuncinya adalah rasa syukur kita. Memang tepat, karena kita tidak bisa mengatur besar kecilnya rezeki, tapi kita bisa mengatur bagaimana cara bersikap terhadapnya.

    ReplyDelete

Post a Comment