Menjelang akhir tahun bagaimana kabar job/Kerjasama
yang sobat Jelajah Mia dapatkan selama 2025 ini? Apakah sudah sesuai target
atau belum?
Sebelumnya Jelajah Mia ajak ngobrol seputar circle
pertemanan, saat ini mari kita berdiskusi Adil bersikap ketika menerima rezeki.
Simak hingga akhir, ya!
Adil Bersikap Saat Menerima Rezeki
Pernah suatu kali saat sobat Jelajah Mia menerima
sebuah job dengan fee yang lumayan besar. Semua tampak lancar: kontrak
sudah disepakati, konten sudah tayang, dan dari pihak agency/kerjasama pun tak
ada keluhan.
Tapi setelah semua selesai, sobat Jelajah Mia mulai
berpikir apakah hasilnya sudah sepadan dengan nilai yang kuberikan?
Ketika melihat kembali performa postingan, sobat
Jelajah Mia sadar bahwa angka performa tidak sepenuhnya tercapai. Engagement
lebih rendah dari biasanya, dan reach tak sesuai target.
Agency mungkin menganggapnya hal biasa, toh mereka
bilang “It’s okay, Kak, hasilnya tetap bagus kok.” Tapi di dalam hati,
ada perasaan tak tenang.
Bukan karena takut, tapi karena ingin adil.
Adil Pada Diri Sendiri dan Orang Lain
Kadang, keadilan bukan soal membagi dua dengan
tepat, melainkan tentang menempatkan diri secara proporsional.
Ketika kita menerima sesuatu terutama rezeki dalam
bentuk apa pun ada tanggung jawab moral yang ikut menyertainya.
Dalam kasus itu, aku memilih untuk membalas dengan
cara lain. Tidak tertulis di kontrak, tidak tercatat di laporan, tapi aku ingin
menyeimbangkan nilai yang kuterima.
Jadi, aku memutuskan untuk share ulang
postingannya beberapa kali, berinteraksi lebih aktif di kolom komentar, bahkan
membuat story tambahan untuk memperkuat pesan postingan yang ingin
disampaikan itu.
Mungkin kecil nilainya secara hitungan, tapi
bagiku, itu bentuk adil bersikap mengembalikan energi baik dengan cara
yang tulus, bukan karena tuntutan.
Keadilan yang Tak Tertulis
Adil bukan berarti selalu harus dihitung. Kadang
keadilan hidup justru hadir di wilayah yang tak bisa diukur. Atau ada yang suka
bilang, adil bukan persoalan sama rata tapi tentang sesuai dengan porsinya
masing-masing.
Saat kita diberi rezeki lebih banyak kemudahan,
peluang, atau kepercayaan itu tanda bahwa kita punya ruang lebih luas untuk
berbagi.
Contohnya, ketika hidup terasa mudah: kerjaan lancar,
urusan keluarga tenang, dan segalanya terasa mengalir. Di momen seperti itu,
justru jangan berhenti di rasa syukur saja.
Jadikan kelapangan itu sebagai kesempatan untuk membantu
yang sedang sempit. Tidak harus besar. Bisa dimulai dari hal-hal kecil:
- Mengajarkan teman cara membuat sesuatu yang menarik.
- Membantu postingan atau usaha teman dengan repost sederhana.
- Menjadi pendengar yang sabar untuk seseorang yang sedang lelah.
- Atau sekadar memberi komentar penyemangat di postingan seseorang
yang mulai berjuang lagi.
Tindakan kecil seperti itu kadang menjadi bentuk
“bayaran tambahan” untuk rezeki yang telah kita terima.
Adil Itu Soal Integritas
Kita tidak bisa mengatur besar kecilnya rezeki,
tapi kita bisa mengatur bagaimana cara bersikap terhadapnya. Orang lain mungkin
tidak akan tahu seberapa jauh kita berusaha menebus kekurangan, tapi Tuhan
tahu.
Adil bukan hanya tentang perlakuan kepada orang
lain, tapi juga pada diri sendiri agar hati tetap bersih, niat tetap lurus, dan
pekerjaan terasa ringan karena dilakukan dengan sepenuh hati.
Jadi, setiap kali kita menerima sesuatu yang terasa
“lebih” dari seharusnya, jangan buru-buru bersorak.
Ambillah waktu sejenak untuk menakar ulang:
“Apakah aku sudah memberi nilai yang setara dengan
yang aku terima?”
Kalau belum, tambahkan sedikit kebaikan di
sana-sini. Tak perlu dilihat orang, cukup menjadi saksi antara diri sendiri dan
Allah.
Penutup
Karena pada akhirnya, rezeki bukan hanya soal uang
yang datang, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga keseimbangannya agar tak
merusak rasa syukur di hati.




Kereeen syekaliii. Ini kayak reminder buat aku juga yang sering ngejob. Harus adil sesuai porsinya. Bukan membagi sama rata, tapi menghitung secara proportional.
ReplyDeleteTerima kasih pengingatnya Teh Mia. Kalau aku bulan kemarin merasa bersalah sama blog karena lebih banyak postingan job daripada organik. Jadi, pas lagi luang gini nggak boleh males-malesan, harus nulis organik. Biar postingannya tetap seimbang pas nantinya ada job. Job kan datangnya nggak bisa diprediksi, ya, kalau lagi rame, ya, rame sampai begadang. Kalau sepi krik krik krik bikin gabut.
ReplyDeletePoin tentang keadilan yang tak tertulis dan integritas itu sangat mendalam, mbak. Bahwa adil bukan soal hitungan kontrak, tapi tanggung jawab moral untuk mengembalikan energi baik. Seringkali rezeki yang 'lebih' dari orang lain adalah ruang bagi kita untuk lebih banyak berbagi. Insightful sekali!
ReplyDeleteMenyikapi rejeki ini yang belum semua orang bisa melakukannya, termasuk aku wkwk. Makasih loh mbak Miaaa udah nulis ini, jadi reminder buat aku supaya lebih bisa menyikapi rejeki yang ku dapat.
ReplyDeleteKalau saya alhamdulillah di 2025 ini job lumayan lancar, -termasuk job di blog dan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat kedua belah pihak puas dan adil dengan brief yang diberikan, tapi biasanya misal dari brand tidak mengharuskan laporan viewers dan komen pun sebisa mungkin saya ikutkan blogwalking sebagai bentuk apresiasi atas job yang kita terima
ReplyDeleteTulisan ini kerasa banget jujurnya. Kadang hal kayak gini memang nggak kelihatan dari luar, tapi berisik di hati sendiri. Aku relate sama bagian “adil itu soal integritas”, karena bener… bukan agency atau orang lain yang nuntut, tapi hati kita sendiri. Justru hal-hal kecil kayak ekstra effort, repost, atau bantu tanpa diminta itu yang bikin hati lebih tenang. Artikelnya ngingetin kalau rezeki bukan cuma diterima, tapi juga dijaga caranya. Makasih sudah nulis ini, jadi bahan refleksi juga buat pembaca.
ReplyDeleteRefleksi diri banget dan mengajak kita untuk jujur pada diri sendiri. Berusaha menerima setiap kekurangan diri dan mencoba memperbaiki di tahun depan
ReplyDeleteArtikel yang apik, jadi reminder untukku juga sudahkah aku berbuat adil, karena memang adil bukan perkara besar atau kecilnya saja
ReplyDeleteSaya malah jarang terpikir untuk adil saat menerima rezeki. Pengingat yang luar biasa!
ReplyDeleteKuncinya adalah rasa syukur kita. Memang tepat, karena kita tidak bisa mengatur besar kecilnya rezeki, tapi kita bisa mengatur bagaimana cara bersikap terhadapnya.
ReplyDelete